Asosiasi Pedagang Mi dan Bakso Indonesia (Apmiso) mendesak pemerintah turun tangan menurunkan harga daging sapi di Jakarta dan sekitarnya. Saat ini para pedagang bakso memilih setop berdagang, namun ada juga yang memaksakan diri berdagang dengan mengurangi kualitas bakso.
Ketua Umum Apmiso Trisetyo Budiman mengatakan saat ini para pedagang bakso yang memilih tetap berdagang mensiasati dengan mencampur adonan bakso dengan daging ayam maupun jeroan sapi.
"Sekarang sudah dicampur ayam dan jeroan tapi itu tidak sehat, karena kolesterolnya tinggi," katanya
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada yang pakai tikus tapi itu kecil sekali," ucapnya singkat.
Dikatakan Tri, sebagai masukan untuk konsumen, sebaiknya membeli bakso yang harganya di atas Rp 20.000 per porsi. Bagi Tri, bakso yang harganya di atas itu relatif terjamin menggunakan daging sapi asli tanpa ada campuran lainnya.
Menurutnya konsumsi daging orang Indonesia per kapita relatif rendah, itu pun umumnya didapat dari makanan olahan daging khususnya dari bakso. Ia berharap pemerintah bisa bertindak nyata untuk menekan harga daging sapi yang sudah tidak wajar.
"Kalau ini berkepanjangan akan menimbulkan pengangguran, bahkan bisa gejolak sosial," katanya.
Ia memperkirakan konsumsi daging nasional dari olahan bakso bisa mencapai 40.000 ton per tahun. Misalnya di Jakarta, dari kurang lebih 50.000 pedagang bakso, setiap pedagang per hari membutuhkan daging sapi 5 Kg.
"Coba tanya di pasar, pedagang daging, siapa yang paling banyak beli daging, bukan restoran masakan padang, tapi para pedagang bakso," jelas Tri. (hen/dnl)











































