Ketua Komite Daging Sapi DKI Jakarta Raya, Sarman Simanjorang mengatakan, setidaknya ada 16 ribu UKM yang terpukul terhadap lonjakan harga daging sapi ini. Sebagian besar diantaranya memilih untuk mogok berjualan dan berujung pada kerugian.
"Kemarin banyak tukang bakso yang tutup. Ruginya miliaran. (Lonjakan harga) Imbasnya ke tukang bakso, tukang sate, warung makan hampir seluruhnya mogok. sebagai bentuk protes mereka kepada pemerintah yang menyatakan daging sapi ada padahal nggak," ungkap Sarman saat dihubungi detikFinance, Senin (19/11/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sarman menambahkan di Jabodetabek, setidaknya ada 16 ribu usaha kecil dan menengah (UKM) yang membutuhkan daging sapi untuk bahan baku usahanya. Tak hanya UKM, permintaan besar pun datang dari hotel, restoran dan kafe (horeka)
"Di Jakarta ada 16 ribu UKM yang membutuhkan daging sapi tiap hari. Tukang sate, bakso, warung Padang. Itu baru UKM. Belum yang besar dimana perusahaan setiap hari butuh bahan baku, contohnya Hotel Borobudur 300 kg untuk buntutnya doang," tegasnya.
Sarman mendesak pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk menyediakan kuota khusus untuk pasokan di DKI Jakarta, guna mencegah adanya lonjakan harga daging sapi yang terjadi seperti sekarang ini.
"Kita ingin selalu tersedia, suplainya lancar. Pasokan ke DKI Jakarta kan semua dari luar, tidak ada di dalam DKI sendiri. Makanya kami minta kepada Gubernur untuk menyediakan kuota khusus Jakarta, 50 ribu ton/tahun," cetusnya.
(zlf/dru)











































