Badai Ivan Mereda, Harga Minyak Dunia Mulai Surut

Badai Ivan Mereda, Harga Minyak Dunia Mulai Surut

- detikFinance
Jumat, 17 Sep 2004 10:17 WIB
Jakarta - Harga minyak mentah dunia secara perlahan mulai surut setelah badai topan Ivan mulai meninggalkan daerah utama pengilangan minyak di AS. Namun demikian para analis menilai, penurunan itu sama sekali tidak terkait oleh keputusan OPEC untuk menaikkan kuota produksinya sebesar 1 juta barel per hari (bph) menjadi 27 juta bph mulai Nopember mendatang. "OPEC hanya mengejutkan pasar secara lemah dengan kenaikan kuota 1 juta bph, meskipun pada awalnya pasar mengindikasikan bahwa OPEC tidak akan mengubah baik kuota mapun batasan harganya pada pertemuan kali ini," ujar analis dari Deutsche Bank Adam Sieminski dan Jay Saunders dalam pernyataan tertulisnya seperti dilansir AFP, Jumat (17/9/2004). Harga patokan New York untuk jenis minyak Brent pengantaran Nopember turun 26 sen menjadi US$ 40,06 per barel pada akhir perdagangannya di London. Sementara untuk minyak light sweet pengantaran Oktober turun 53 sen menjadi US$ 43,05 per barel pada awal perdagangannya."Awal-awal kekhawatiran adalah badai Ivan akan menghantam dataran di wilayah Louisiana atau Texas yang selanjutnya akan mengganggu produksi kilang minyak di wilayah itu. Namun sekarang terlihat jelas bahwa badai tidak mendekati wilayah-wilayah penting penghasil minyak dan kilang," ujar pialang dari Prudential Bache, Tony Machacek.Harga minyak sebelumnya terus merangkak naik karena kekhawatiran pasar terhadap gangguan badai Ivan di wilayah AS yang dikhawatirkan mengganggu produksi minyak di Teluk Mexico yang menyumbang 25 persen produksi minyak AS. Selain itu pasar juga mengkhawatirkan terganggunya produksi minyak di Irak karena adanya gangguan pada pipa-pipa minyak. Namun demikian badai Ivan semakin surut. Jika sebelumnya badai yang telah menelan 20 korban ini mempunyai kecepatan angin 215 kilometer per jam, saat ini kecepatannya sudah turun menjadi 185 kilometer per jam. "Perhatian pasar minyak masih pada meningkatnya risiko dari isu-isu geopilitik seperti sabotase di Irak dan masalah-masalah seperti badai Ivan di Teluk Mexico, dimana secara temporer telah mengganggu produksi minyak AS sekitar 1 juta bph karena adanya evakuasi," ujar Adam Sieminski dan Jay Saunders. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads