Kenaikan harga daging sapi di pasaran, disebabkan tingginya harga jual dari agen sapi potong yang ada di Palu dan sejumlah daerah di Pulau Jawa. Harga jual kembali oleh pedagang ke masyarakat Rp 95.000 per kilogram, terus menurunkan minat pembeli untuk mengkonsumsi daging sapi.
"Tidak jarang juga kita jual dengan harga modal saja Rp 90.000 per kilogram. Itu pun pembeli masih sangat minim. Harga itu (Rp 90.000) adalah harga dari agen," kata Murjani (42), salah seorang pedagang Sentra Daging Sapi di Pasar Induk Segiri Jl Pahlawan Samarinda, kepada detikFinance, Rabu (21/11/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di sini, susah kalau mau jual Rp 100.000 per kilogram. Harga Rp 95.000 saja susah jual, apalagi segitu (Rp 100.000). Kita bertahan saja, kalau mau ambil untung jelas tidak bisa," ujar Murjani.
"Untung tidak ada, mau bagaimana ya? Saya juga sampai hutang ke agen, supaya saya tetap jualan. Karena inilah sumber penghidupan saya," tambah Murjani.
Pedagang daging sapi lainnya, M Zaini (55), mengutarakan keluhan serupa. Menurut Zaini, ramainya pembelian hanya terjadi apabila ada pesanan daging sapi dalam jumlah banyak.
"Juga sering tidak habis terjual karena harganya memang mahal. Kalau tidak habis terjual ya terpaksa dibuang. Mau bagaimana lagi?" sebut Zaini.
"Penjual bakso misalnya. Dulu sering pesan biasa 3 kilogram daging sapi. Kondisi sekarang berbeda. Mereka sekarang hanya beli 1 kilogram," ujarnya.
Keduanya sepakat, pemerintah harus turun tangan sesegera mungkin untuk menyelamatkan usaha mereka berjualan daging. Apabila tidak turun tangan, minimnya pembeli bisa menutup usaha mereka.
"Sampai sekarang belum ada turun tangan pemerintah. Kita harap, bagaimana caranya pemerintah turun tangan untuk mengendalikan harga daging sapi ini. Kenaikan ini bukan dari penjual, tapi harga dari agen," sebut Zaini.
"Kenaikan mulai dari harga Rp 68.000 sampai sekarang Rp 95.000 per kilogram. Kalau terus naik, kita bisa gulung tikar karena sudah tidak sanggup bertahan," timpal Murjani.
(hen/hen)