Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan, menurut proyeksi dari lembaga Frost & Sullivan, negara yang bakal menggelontorkan investasi besar untuk kereta super cepat dalam 10 tahun ke depan adalah:
- Amerika Serikat dengan nilai US$ 137 miliar atau sekitar Rp 1.233 triliun
- China senilai US$ 128 miliar atau sekitar Rp 1.152 triliun
- Spanyol senilai US$ 104 miliar atau sekitar Rp 936 triliun
- Prancis senilai US$ 75 miliar atau sekitar Rp 675 triliun
- Turki senilari US$ 59 miliar atau sekitar Rp 531 triliun
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal ini menjadi suatu pertimbangan yang penting karena KA Super Cepat memerlukan economies of scale, yaitu cukup banyak penumpang yang menggunakan layanannya," ujarnya.
Biasanya KA Super Cepat secara ideal menghubungkan 2 pusat perdagangan atau finansial dan berjarak antara 400-800 km. Seperti yang kita ketahui, negara-negara Eropa yang memiliki KA Super Cepat umumnya secara geografis luas negaranya tidak terlalu besar dengan ukuran di bawah 500 ribu kilometer persegi.
Lain halnya di China, walaupun negaranya sangat luas, namun KA Super Cepat di negeri Tirai Bambu ini menghubungkan terutama kota-kota padat penduduk di bagian pantai timurnya.
"Saya mencatat beberapa hasil evaluasi sistem KA Super Cepat di beberapa negara, antara lain Jepang, Perancis, Jerman, dan Spanyol. Pertama, rancangan sistem KA Super Cepat harus mempertimbangkan karakteristik pola perkotaan dan struktur perekonomian negara, di mana di antaranya termasuk pola pergerakan transportasi. Beberapa negara seperti Jerman memutuskan untuk membangun sistem KA Super Cepat yang dapat melayani angkutan barang juga. Walaupun biaya upgrade relnya lebih mahal, namun sektor industrinya lebih diuntungkan," papar Bambang.
Kedua, masalah biaya pembangunan. Biaya dalam investasi KA Super Cepat dikatakan Bambang sangat tinggi. Seluruh kemungkinan harus dipelajari untuk menekan biaya serendah mungkin.
Contohnya Perancis memilih untuk menggabungkan rel konvensional dengan rel KA Super Cepat, di mana jalur konvensional digunakan untuk akses dalam kota dan jalur ekslusif KA Super Cepat di luar kota.
Ketiga, perubahan distribusi moda. Di Prancis dan Spanyol, terdapat penurunan drastis pengunaan angkutan udara setelah KA Super Cepat dioperasikan di kedua negara tersebut.
Moda angkutan jalan juga terkoreksi, namun tidak sebesar moda angkutan udara. Contohnya, untuk rute KA Super Cepat antara Madrid dan Seville, dalam waktu 3 tahun setelah mulai beroperasi, modal share angkutan udara terjun bebas dari 67% ke 16%.
(dnl/hen)











































