Demikian disampaikan Nuh dalam acara Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Business Summit di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (23/11/2012).
"Kalau mau saingan, harus mampu bekerja sekurangnya 14 jam. Masuk jam 8-9 pagi, pulang 10-11 malam, kalau yang biasa-biasa saja ya sudahlah, akan tertinggal. Kita harus berani masuk ke wilayah itu," ungkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Nuh menyebutkan terdapat 3 hal yang memengaruhi kemampuan daya saing seseorang. Pertama, pemenuhan kebutuhan dasar, seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.
"Kalau kita mau bersaing, pertanyaan pertamanya itu adalah apakah semua kebutuhan dasar ini sudah terpenuhi. Tahun 2013 ini, kita mau pendidikan 12 tahun, tandanya sampai SMA, itu pendidikan dasarnya," ujarnya.
Kedua, lanjut Nuh, masalah efisiensi. Menurutnya, kalau membicarakan daya saing maka tidak terlepas dari efisiensi. Hal ini bisa terpenuhi dari perkembangan teknologi dan kecanggihan manajemen.
"Kita urusan ini masih harus kita dorong, kalau omongan pemerintah begini, tapi kalau LSM bahasanya, ini masih jelek," sindirnya.
Kemudian, untuk meningkatkan daya saing juga dibutuhkan inovasi. Guna mengembangkan inovasi ini, Kemendikbud terus melakukan perbaikan kurikulum agar kreativitas siswa dapat dirangsang untuk menciptakan produk inovasi.
"Seharusnya kreativitas itu 2/3 diperoleh dari pendidikan, 1/3 dari genetik bawaan, tapi di Indonesia terbalik, 2/3 itu dari genetik, 1/3 dari pendidikan, makanya dirombak kurikulum," ujarnya
"Ini tantangan pemerintah Indonesia guna memperbaiki pendidikan bangsa yang disparitasnya beraneka ragam, dari yang pakai dasi sampai yang pakai sandal. Berbeda dengan pemerintah Singapura, yang jumlah penduduknya seperti kecamatan di Indonesia," tandasnya.
Β
(nia/dru)











































