Menurut Sarman, Kementerian Pertanian (Kementan) harus membuat rencana jangka panjang untuk menyediakan stok daging sapi agar aman. Rencana swasembada daging 2014 dirasa sebagai upaya yang memaksa karena Indonesia belum siap.
"Kami sudah lihat swasembada sapi sudah dua kali gagal. 2005 kan gagal 2010 juga gagal. Sekarang mau dipaksakan 2014. Kita tanda tanya apa sudah siap kita swasembada sapi 2014? Terus terang kami dari komite daging sapi Jakarta Raya 100% mendukung swasembada. Pasti kita dukung. Cuma sekarang ini apa kita sudah siap? Jangan terlalu dipaksakan," kata Sarman saat dihubungi detikFinance, Selasa (27/11/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini kan kita liatnya nggak fokus. Kementan coba kita liat dari lima komoditi yang ditargetkan tidak ada satupun yang berhasil. Swasembada beras tidak jadi, kedelai tidak jadi, jagung juga tidak jadi, gula apalagi. Nah sekarang swasembada daging mau dipaksakan 2014," cetusnya.
Menurutnya kebijakan pemerintah untuk memperbesar konsumsi daging ayam tahun 2013 sebagai alternatif dari daging sapi kuranglah tepat. Seperti diketauhi pemerintah menyediakan 3,3 miliar ekor ayam tahun 2013 guna memberikan kontribusi yang jauh lebih besar kepada daya konsumsi masyarakat.
Sarman menegaskan jika itu terjadi maka pelaku usaha seperti pedagang bakso menjadi korban. Ia mengilustrasikan adonan bakso yang awalnya menggunakan daging sapi berubah menjadi daging ayam karena langka dan mahalnya harga daging sapi.
"Bakso itu tidak bisa dicampur dengan daging ayam, rasanya akan aneh dan melanggar hak asasi manusia," kata.
(wij/hen)











































