Sebagai Ketua Umum baru PII, Bobby mendesak terwujudnya Undang-Undang Keinsinyuran. Ini juga menjadi rekomendasi dalam Kongres XIX PII. UU tersebut penting untuk mewujudkan tenaga ahli insinyur yang berkompetensi tinggi di dalam negeri.
"Kita semua prihatin karena eksistensi insinyur dalam pembangunan di Indonesia sesungguhnya merupakan hal yang sangat strategis. PII sudah berusia 60 tahun, harusnya kan kita sudah punya Undang-undang Keinsinyuran. Tidak boleh kalah dengan negara-negara lain di kawasan Asia,” kata Bobby dalam keterangan tertulisnya, Selasa (27/11/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lanjut Bobby, insinyur memiliki andil dan peran cukup besar dalam proses dan penciptaan kualitas pembangunan. Terlebih Indonesia kini menjadi sorotan investor dunia.
"Indonesia sedang menjadi sasaran para investor dan menjadi salah satu primadona investasi. Dengan anggaran pembangunan yang cukup besar, kita semua berharap banyak yang dapat dilakukan para tenaga profesional seperti insinyur dalam membangun Indonesia. Pembangunan membutuhkan insinyur, dan insinyur membutuhkan dukungan perangkat perundangan," tegas Bobby.
Tenaga insinyur di Indonesia juga masih minim, dengan jumlah 750.000 orang. Rasio insinyur dibandingkan total penduduk masih sangat sedikit. Bandingkan negara lain, Malaysia jumlah penambahan insinyur hampir 327 orang per tahun.
Sementara di Vietnam, jumlah insinyur bertambah sekitar 282 orang per tahun, dan di Korea Selatan jumlah insinyur bertambah sekitar 800 orang per tahun. " Harus ada upaya serius untuk dapat mencetak jumlah insinyur yang lebih banyak. Jika tidak, kita akan mengalami krisis insinyur," tegasnya.
Bobby memandang, minat pemuda untuk menjadi insinyur dan mendalami bidang tekhnik cenderung berkurang. Kondisi terkini jumlah sarjana tehnik Indonesia baru sekitar 11% dari atau sebanyak 1,05 juta dari total sarjana sebanyak 9,6 juta. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang di tahun 2008 sudah memiliki insinyur sebanyak 1.571.900.
"Ironis sekali. Di sejumlah universitas, kami mendengar, minat para siswa untuk masuk fakultas tekhnik, belakangan ini juga terus menurun," katanya.
(wep/dnl)










































