"Daging ayam dan kelinci juga populer. Yang penting kita harus tetap makan protein yang ada dalam daging," kata Hatta di Jakarta, Jumat (30/11/2012).
Hatta memandang salah satu penyebabnya adalah adanya kenaikan dan lonjakan konsumsi daging sapi oleh masyarakat Indonesia dari 1,9 Kg/kapita/tahun menjadi 2,2 Kg/kapita/tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut data Kementerian Pertanian menyebutkan, per November-Desember 2012 stok daging sapi surplus 32.218 ton. Dari angka tersebut juga masih terdapat sisa alokasi daging sapi sapi impor 2012 sebanyak 3.753 ton. Surplus daging sapi tersebut juga disumbang dari stok ternak lokal dalam negeri yang ada sebanyak 498.855 ekor atau setara dengan 84.875 ton.
Sementara itu sapi yang ada di feedloters atau tempat penggemukan sapi merupakan sapi bakalan eks impor sebanyak 88.742 ekor atau setara dengan 17.693 ton dan sapi lokal di feedloters sebanyak 38.582 ekor atau setara dengan 6.564 ton.
Stok daging sapi untuk kebutuhan di Jabodetabek pada bulan Desember 2012 dan Januari 2013 juga masih aman. Bahkan, diyakini masih akan surplus. Kebutuhan daging sapi di Jabodetabek pada Desember 2012 adalah 17.306 ton dan Januari 2013 adalah 15.306 ton.
Stok daging sapi nasional pada Desember 2012 mencapai 17.976 ton dan pada Januari 2013 adalah 16.550 ton. Pada bulan Desember 2012 terdapat daging impor sebanyak 3.753 ton, sapi bakalan sebanyak 15.106 ekor atau setara dengan 11.212 ton.
Untuk Januari 2013, terdapat daging impor sebanyak 3.330 ton, sapi bakalan sebanyak 11.330 ekor atau setara dengan 2259 ton. Sapi lokal sebanyak 64.422 ekor atau setara dengan 10.961 ton. Dari data yang ada,
Walaupun dari data Kementerian Pertanian stok daging dinilai cukup, tetapi Hatta menjaga jumlah stok dengan melakukan importasi sebesar 80.000 ton untuk 2013.
"Paling tidak, pertengahan Desember izinnya. Alokasi impor tahun 2013 diperkirakan 80.000 ton atau 15 persen dari kebutuhan daging," tutur Hatta.Β
(wij/hen)











































