Curhatan Pelaku Bisnis Sapi Soal Tingginya Harga Daging

Curhatan Pelaku Bisnis Sapi Soal Tingginya Harga Daging

- detikFinance
Senin, 03 Des 2012 12:28 WIB
Curhatan Pelaku Bisnis Sapi Soal Tingginya Harga Daging
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Harga daging sapi di Jakarta masih bertengger tinggi saat ini Rp 95.000/kg.
Pelaku usaha sapi menyatakan program swasembada sapi pemerintah di 2014 tidak diikuti oleh penataan struktur sapi di Indonesia.

Direktur Utama BUMD DKI yaitu PT Dharma Jaya DKI Kusuma Andika mengatakan, saat ini stok sapi langka sehingga harganya mahal. Dharma Jaya juga membawahi beberapa rumah potong hewan (RPH) di Jakarta.

"Jadi begini, program pemerintah swasembada daging 2014 kurang diikuti keberhasilan menata struktur sapinya sendiri. Harusnya pemerintah jangan turun di penggemukan, tapi pembibitan sehingga memang kemarin pedagang pada demo karena harga beli mereka mahal di RPH-RPH itu," tutur Kusuma saat ditemui di Balai Kota, Jakarta, Senin (3/12/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Kusuma, para pedagang daging membeli daging sapi Rp 68 ribu per kilogram, sampai ke pasar harganya sudah mencapai Rp 95 ribu per kilogram. "Mereka mau jual berapa?" ujarnya.

Jadi, ujar Kusuma, saat ini tidak ada ketersediaan sapi yang cukup sehingga harganya mahal dan naik terus.

Kusuma mengatakan, perusahaan yang dikepalainya mempunyai stok daging sendiri, namun jumlahnya belum cukup untuk memenuhi stok keseluruhan di DKI Jakarta. Pemerintah selalu mengatakan stok daging cukup, namun kenyataan di lapangan tidak ada stok daging sapi yang memadai.

"Jadi intinya persoalannya ada ketidaksesuaian antara pelaku bisnis yang merasa kekurangan barang dengan pemerintah yang mengatakan stok cukup. Persoalan timbul ketika pebisnis tidak punya data, pemerintah selalu bicara dengan data, karena mendapat laporan soal sapi. Pertanyaannya ke mana validitas data itu?" tegas Kusuma.

Dia juga menyinggung soal mahalnya harga sapi Australia di Indonesia. Menurutnya, Australia menjual mahal sapinya ke Indonesia karena pemerintah menetapkan sapi yang bisa dibeli importir dari Australia tidak boleh lebih dari 200 kg, atau masih anak sapi.

"Sapi ini terpaksa dijual Australia karena Indonesia pasar terbesar. Padahal sapi-sapi mereka beratnya 400-500 kg. Jadi dijual lebih mahal untuk mensubsidi sapi besar yang dijual ke negara lain. Tapi maksud pemerintah baik, agar saat dibawa ke Indonesia, dipelihara dulu 3 bulan agar bisa naik menjadi 400 kg dan baru dipotong. Memlihara 3 bulan ini menyerap tenaga kerja," imbuh Kusuma.


(dnl/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads