Ini Penyebab RI Masih Impor Singkong

Ini Penyebab RI Masih Impor Singkong

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Senin, 10 Des 2012 14:26 WIB
Ini Penyebab RI Masih Impor Singkong
Jakarta - Pihak Kementerian Pertanian (Kementan) menanggapi soal impor singkong yang kembali terjadi pada Oktober 2012 lalu. Permintaan terhadap singkong di dalam negeri terus meningkat karena konsumsi industri yang tinggi.

Direktur Aneka Kacang dan Umbi (Akabi) Kementan Maman Suherman mengatakan, Indonesia membutuhkan singkong yang cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan industri yang terus meningkat. Beberapa industri yang membutuhkan singkong antaralain makanan ringan, lem, bio ethanol dan lain-lain.

"Kita melakukan impor karena untuk menutupi masa kosong panen singkong per Januari - Mei 2012. Saat-saat bulan kosong ini terjadi masalah pendistribusian sehingga kita kekurangan singkong, jadi harus impor," kata Maman saat dihubungi detikFinance, di Jakarta, Senin (10/12).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, ia mengaku, keputusan impor singkong tersebut bukan dilakukan atas inisiatif Kementan melainkan para pengusaha."Ini bukan inisiatif dari Kementan tapi para pengusaha yang melakukan," katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, kembalinya Indonesia melakukan impor singkong tidak terlepas dari pertumbuhan industri terkait tepung terigu. Sehingga ia mengaku hal tersebut tidak bisa dihindari untuk menutupi tingginya permintaan.

"Ada impor karena pertumbuhan industri terus meningkat seperti tepung, bio etanol, dan lain-lain sehingga diperlukan impor karena pasokan dalam negeri tidak mencukupi," ujar Maman.

Pada Oktober lalu kembali terjadi impor singkong sebesar 6.200 ton senilai US$ 1,6 juta atau Rp 15,2 miliar. Padahal hampir 3 bulan sebelumnya tidak terdapat impor singkong ke Indonesia.

Biasanya impor singkong dilakukan dari negara China dan Vietnam, tetapi untuk impor pada bulan Oktober ini berasal dari negeri Gajah Putih, Thailand.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total impor singkong pada tahun ini hingga Oktober 2012 sebesar 13.300 ribu ton dengan nilai US$ 3,4 juta atau Rp 32,3 miliar.

(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads