Dirjen: Dulu Bea Cukai Basah Karena Korupsi, Sekarang Basah Keringat

Dirjen: Dulu Bea Cukai Basah Karena Korupsi, Sekarang Basah Keringat

Ramdhania El Hida - detikFinance
Selasa, 11 Des 2012 11:15 WIB
Dirjen: Dulu Bea Cukai Basah Karena Korupsi, Sekarang Basah Keringat
Jakarta - Pihak Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai menyatakan sudah melakukan banyak perubahan budaya kerja, terutama dalam pemberantasan korupsi.

Hal ini disampaikan Dirjen Bea Cukai Agung Kuswandono dalam Talkshow Anti Korupsi di Kantor Pusat Ditjen Bea Cukai, Jalan Ahmad Yani, Rawamangun, Jakarta, Selasa (11/12/2012).

"Dulu, Bea Cukai kalau didatangi KPK pasti pucat tapi sekarang kita undang KPK. Kalau dulu dianggap basah karena ajang korupsi, kalau sekarang basah karena pegawainya berkeringat untuk mengejar penerimaan negara," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Agung, semenjak instansi tersebut melakukan reformasi birokrasi guna mengurangi tindak korupsi, penerimaan negara dari sektor bea dan cukai selalu mencapai target yang ditetapkan dalam APBN.

"Target penerimaan negara hari ini sudah lebih dari 100 persen, kita berusaha sampai 2012. Target tahun ini Rp 131 triliun tapi kita perkirakan bisa Rp 140 triliun sampai akhir tahun, pajak dalam rangka impor bisa Rp 160 triliun. Total bisa Rp 300 triliun atau 25-26 persen dari penerimaan APBN," paparnya.

Agung menegaskan, tugas Ditjen Bea Cukai tidak hanya terkait penerimaan negara, tetapi juga menjaga industri dalam negeri dan keberlangsungan kehidupan bangsa.

"Kalau ada penyelundupan pakaian bekas, kalau Bea Cukai ikut bermain di dalamnya, maka akan menghancurkan industri garmen. Satu yang melakukan korupsi itu bisa merusak industri. Satu gram heroin bisa membuat 10 orang teler, semakin hari kiloannya semakin meningkat," ungkapnya.

Untuk itu, lanjut Agung, tindak korupsi ini harus benar-benar diberantas dari Ditjen Bea Cukai. Pasalnya, meski hanya 1 atau 2 orang yang melakukan, dapat merugikan banyak pihak.

"Kalau satu orang Bea Cukai melakukan korupsi, berapa kerugian negara, berapa industri yg collaps, garment, toys, membanjirnya produk ilegal, berapa banyak anak bangsa yang meninggal karena narkoba. Ini pertanggungjawaban kita di dunia dan akhirat," tegasnya.

(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads