Selama ini buah-buahan tropis asal Indonesia seperti salak dan manggis dijual hingga ke China. Pemerintah ingin meningkatkan penjualan buah-buahan tersebut.
Duta Besar RI untuk RRT merangkap Mongolia Imron Cotan mengatakan, produk pertanian tropis telah lama menjadi salah satu komoditi unggulan Indonesia, seperti terlihat dari kontribusinya terhadap PDB Indonesia sebesar 16% dan juga menyerap 45% lapangan kerja di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Imron pada acara 'The International Exchange and Cooperation for Hainan Agriculture Products and Access to ASEAN Symposium' seperti dikutip dalam siaran pers, Kamis (13/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Imron, industri pertanian saat ini mendapatkan perhatian yang besar dari komunitas bisnis dunia, mengingat komoditas pertanian merupakan salah satu sektor yang paling cepat pulih dari dampak krisis finansial global di 2008 yang ditandai dengan meroketnya harga beberapa komoditas pertanian di pasar dunia.
Sebagai negara agraris, Indonesia bertekad untuk mengembangkan sektor pertanian antara lain melalui 'orange revolution' yang tidak hanya untuk menaikkan tingkat produksi, tetapi juga meningkatkan kualitas guna memenuhi standar internasional.
"Kerja keras pemerintah RI terbukti dari naiknya posisi Indonesia sebagai penghasil minyak sawit terbesar di dunia, penghasil karet terbesar kedua di dunia, dan semakin beragamnya produk buah tropis Indonesia yang diekspor ke pasar internasional," kata Imron.
Imron juga menggarisbawahi mengenai pentingnya kerjasama sektor pertanian antara Indonesia dan RRT, mengingat RRT merupakan pasar utama beberapa produk pertanian Indonesia, termasuk buah tropis seperti salak dan manggis, yang diharapkan dapat lebih meningkat baik ragam maupun jumlahnya di masa yang akan datang.
Peningkatan ekspor Indonesia ke Tiongkok akan sangat membantu pencapaian target volume perdagangan di 2015 sebesar US$ 80 miliar, seperti yang diharapkan kedua pemerintah.
Dalam kesempatan itu, Imron mengajak pengusaha di China untuk berinvestasi di sektor pertanian Indonesia. Apalagi saat ini China merupakan negara kaya dengan cadangan devisa US$ 3,5 triliun dan punya teknologi pertanian yang maju.
(dnl/dru)











































