Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pengurus Indonesia Netherlands Society (INS) Jesse Kuijper dalam sambutan pembukaan seminar Indonesias Economic Growth in the 21st Century: Challenges and Opportunities of Teaming Up with Asia's Third Emerging Market di Kementerian Luar Negeri Belanda, Bezuidenhoutseweg 67, Den Haag, baru-baru ini.
"Belanda dan Indonesia berbagi masa lampau yang luarbiasa. Oleh karena itu kedua negara perlu dan sangat dapat bekerjasama untuk masa depan yang lebih baik," ujar Kuijper.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sangat penting untuk melihat keluar batas, dan lebih penting lagi untuk melihat siapa sahabat sejati. Dan sebagai sabahat, Belanda-Indonesia bisa belajar lebih banyak satu sama lain, saling tolong-menolong satu sama lain, Mari saling belajar dan dengan itu mari membangun masa depan," demikian Kuijper.
Seminar pada Selasa (11/12/2012) itu menampilkan pembicara kunci Managing Director and Senior Economist of Standard Chartered Bank Indonesia Fauzi Ichsan dan mendapat kehormatan dengan kehadiran Duta Besar RI Retno Lestari Priansari Marsudi dan mantan Menteri Luar Negeri Dr. Bernard Rudolf (Ben) Bot.
Selain itu juga mantan Menteri Luar Negeri dan Ketua Dewan Wali Amanah INS Dr. Willem F. van Eekelen, CEO of Royal HaskoningDHV Ir. Bertrand M. van Ee, serta lebih dari 80 perwakilan pemerintah dan industri kedua negara.
Pada penutupan seminar, Ketua Dewan Wali Amanah INS Dr. Willem F. van Eekelen menganugerahkan Linggarjati Award kepada Joty Terkulve atas jasa-jasanya dalam memelihara kelangsungan hubungan bilateral Belanda-Indonesia.
Linggarjati Award kepada Terkulve adalah yang perdana dan direncanakan penghargaan akan terus berkelanjutan untuk orang-orang yang telah membuktikan diri berjasa dalam memelihara dan memajukan hubungan bilateral kedua negara. (es/es)











































