Ini Daftar Ramalan Ekonomi 2012 yang Ternyata Meleset

Ini Daftar Ramalan Ekonomi 2012 yang Ternyata Meleset

- detikFinance
Rabu, 19 Des 2012 08:49 WIB
Ini Daftar Ramalan Ekonomi 2012 yang Ternyata Meleset
Foto: CNBC
Jakarta -

Saham Facebook

Initial Public Offering (IPO) jejaring sosial terbesar Facebook sebesar US$ 16 miliar telah menjadi euforia. Saham Facebook melonjak dari US$ 28-35 menjadi US$34-38, tiga hari sebelum listing.

Banyak investor yakin bahwa saham Facebook ini akan melonjak pada hari pertama penjualan. Namun, debutnya pada tanggal 18 Mei 2012 ini jatuh jauh dari euforia sebelumnya. Saham ini ditutup datar pada hari pertama dan menurun hampir 11% pada hari kedua.

Debut mengecewakan ini membuat para investor khawatir selama beberapa bulan. Dan sahamnya pun turun pada Bulan September menjadi US$ 17,73. Dan sahammnya pun kembali naik menjadi US$ 27,70.

Ekonomi China jatuh

Pada akhir tahun 2011, investor ternama termasuk Jim Chanos dan Marc Faber, penulis Laporan Gloom, Boom dan Doom, mengungkapkan suatu kemungkinan akan terjadi kemerosotan ekonomi di China.

Data ekonomi selama sembilan bulan pertama, ketika pertumbuhan rata-rata 7,7% jauh angka pertumbuhan yang terlihat selama dekade terakhir membuat investor waspada. Pada kuartal ketiga, PDB bahkan jatuh di bawah target tahunan pemerintah sebesar 7,5%, diakibatkan oleh lemahnya permintaan dari luar negeri dan investasi lesu di dalam negeri.

Tapi dengan perubahan kepemimpinan mulus pada bulan November, retorika di China telah berubah positif. Data terbaru pada industri manufaktur dan pasar perumahan bersama-sama dengan lonjakan ekspor telah memberi sinyal bahwa ekonomi telah lolos dari resiko kemerosotan. Para ahli sekarang memprediksi pertumbuhan akan kuat pada kuartal keempat yakni lebih dari 8%.

Dengan kepemimpinan yang baru dibawah Xi Jinping, memberi sinyal pada reformasi ekonomi, dan kebijakan dalam menggapai pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Ekonomi Yunani akan hancur

Tokoh dalam komunitas investasi, termasuk CEO Pimco, Mohammed El-Erian, pada bulan Mei, mengatakan bahwa investor harus mulai mempersiapkan diri dan harus waspada akan keadaan Yunani.

Pemerintah Yunani, yang memiliki tingkat utang diproyeksikan mencapai 190% dari PDB pada tahun 2013, telah berjuang untuk menerapkan kebijakan pemotongan belanja dan kenaikan pajak yang diperlukan untuk menurunkan beban utang dan dana bailout dari negara-negara Zona Eropa dan IMF.Β 

Namun, hasil pemilihan kedua Yunani pada tanggal 17 Juni ini telah melunakkan kekhawatiran akan hal ini. Kemajuan lebih lanjut dibuat pekan lalu, ketika Menteri Keuangan Zona Eropa berniat membantu mengurangi tingkat utang negara, berencana memberikan 43,7 miliar euro dalam bentuk pinjaman mulai bulan Desember. Analis berharap ini akan mengisi kesenjangan pembiayaan negara hingga 2014.

Harga Emas bergerak datar

Analis dan pengamat emas yang memprediksikan bahwa harga emas akan mencapai US$ 2.000 per ons pada akhir tahun 2012 akan kecewa, karena harga emas kini pada Bulan Desember mencapai US$ 2.300, atau US$ 300 di atas target mereka.

Pengamat logam mulia berpendapat bahwa pelonggaran kuantitatif besar-besaran oleh bank-bank sentral utama akan mendorong pengeluaran dan memacu inflasi, yang akan mendorong investor untuk membeli emas.

Namun, hal ini gagal terwujud, emas jatuh 2,5% sejak Federal Reserve AS mengumumkan *QE3 (pelonggaran kuantitatif) pada 13 September 2012.

Hal tersebut disebabkan permintaan dari dua konsumen terbesar di dunia, China dan India gagal memberikan banyak dukungan untuk logam mulia tahun ini. Permintaan emas India diperkirakan menjadi hampir 19% lebih rendah dibandingkan tahun lalu, media lokal melaporkan, pertumbuhan ekonomi datar dan mata uang rupee yang lemah, membuat impor emas lebih mahal.

Sementara itu, konsumsi emas China turun 8% pada periode bulan Juli hingga September, lemah pada konsumsi perhiasan dan permintaan investasi.

Dari segi teknis, Pengamat Emas Daryl Guppy mengatakan jika emas tidak segera menyeberangi level resistance $ 1.800, komoditas tersebut bisa mengalami pada penurunan tajam.

Obligasi AS lesu

"Pasar obligasi AS menuju kehancuran" analis telah mengatakan kepada kita hal tersebut dari tahun ke tahun.

Ketidakpastian ekonomi global, diperparah oleh krisis utang euro. Penerbitan obligasi mencapai rekor tertinggi tahun ini - melebihi angka $ 1 triliun pada Oktober dan berangsur lebih dekat ke rekor sepanjang masa yang ditetapkan pada tahun 2007, tepat sebelum krisis keuangan global.

Ini telah menyebabkan kekhawatiran. Ketakutan bahwa inflasi mulai merayap lagi. Miliuner Wilbur Ross H. mengatakan kepada CNBC pada bulan Maret untuk bersiap-siap untuk menurunkan 10-tahun harga obligasi , karena gagasan bahwa inflasi hilang dan artifisial tingkat rendah bisa bertahan adalah hal yang "konyol."

Namun, prospek inflasi di AS tetap jinak dan rendah, dan pertumbuhan juga diharapkan tetap bersemangat tahun depan, diperkirakan kebijakan moneter AS akan tetap longgar untuk beberapa waktu.

Amerika Serikat sulit keluar dari resesi

Ketakutan lain pada resesi di AS pada tahun 2012 menjadi berita utama pada awal tahun lalu setelah beberapa ekonom memperkirakan penurunan ekonomi akan terjadi pada semester pertama tahun ini.

Terakhir kali AS jatuh ke resesi adalah dari Desember 2007 hingga Juni 2009 selama krisis keuangan global. Sebuah pemulihan ekonomi telah goyah sejak perputaran tahun 2010, ketika produk domestik bruto (PDB) tumbuh sebesar 2,4 persen. Pada tahun 2011, pertumbuhan PDB turun menjadi 1,8 persen, meningkatkan kekhawatiran resesi ganda tahun ini.

Pada Oktober tahun lalu, Ekonom ternama, Nouriel Roubini, yang secara benar telah memprediksi krisis keuangan tahun 2008, mengatakan kepada CNBC bahwa ekonomi AS, bersama dengan Zona Eropa dan Inggris, sedang menuju resesi kedua dalam dua kuartal pertama tahun 2012. Ketakutan mereka itu kemudian diperkuat tahun ini ketika mantan Presiden AS Bill Clinton mengatakan pada bulan Juni bahwa AS sudah dalam resesi.

Tapi kita berada di akhir tahun, dan ekonomi AS telah meningkat. Kuartal ketiga bulan lalu, ekonomi tumbuh sebesar 2,7 persen, terbaik sejak kuartal keempat tahun 2011. Meskipun ada kelemahan dalam pasar tenaga kerja, perekonomian AS masih berada di jalur untuk menuju ke tingkat pertumbuhan sekitar 2 persen tahun ini. Namun, tahun baru bisa menimbulkan tantangan baru. Perekonomian menghadapi ancaman lain dari resesi jika yang disebut "tebing fiskal", serangkaian kenaikan pajak dan pemotongan belanja yang akan datang dan berlaku pada 1 Januari 2013 nanti.

Gejolak nilai tukar euro terhadap dolar

Gejolak euro sejak awal krisis utang Eropa telah membuat hal tersebut menjadi target yang besar selama aksi jual pasar, dan telah menyebabkan beberapa pengamat memprediksi bahwa mata uang euro akan jatuh terhadap dolar AS tahun ini.

Euro telah jatuh lebih dari 12% saat menyentuh puncak $ 1,49 pada bulan Mei 2011, menghadapi tekanan di tengah kekhawatiran atas resolusi untuk krisis utang Zona Eropa dan kekhawatiran penularan ini akan menyebar ke negara-negara blok lain.

Meskipun melihat fluktuasi dramatis dalam perdagangan dari berita ekonomi yang negatif di Eropa, mata uang tunggal masih tetap tangguh di sekitar $ 1,30 di akhir tahun, tak ada prediksi dari pengamat-pengamat itu yang mendekati kenyataan ini.

Krisis utang Jepang

Seperti pasar obligasi AS, banyak pengamat telah memperingatkan atas obligasi pemerintah Jepang dan meramalkan bahwa imbal hasil akan meningkat secara dramatis pada tahun 2012, yang mengarah ke krisis utang.

Ketakutan muncul dari fakta bahwa pemerintah Jepang masih bisa meminjam uang selama 10 tahun di bawah satu1 persen walaupun memiliki utang publik lebih dari dua kali ukuran ekonomi negara ini.

Dengan bank memegang sejumlah besar angka obligasi Jepang, yang telah menjadi tempat yang aman di tengah krisis utang Eropa, kenaikan suku bunga bisa memberikan mereka kerugian besar.

Kyle Bass, salah satu investor terkenal, mengatakan kepada CNBC di Bulan Mei bahwa Jepang akan mengikuti jejak Eropa soal krisis utang, bahkan investor ditawari kesempatan bertaruh untuk itu. Ia menunjuk Bank of Japan (BOJ) membeli triliunan yen senilai obligasi, ada sejumlah bahaya yang terkait dengan strategi bank sentral dalam usahanya untuk memberi jalan keluar dari krisis utang.

Tapi obligasi Jepang tetap tangguh. Pada minggu pertama Bulan Desember, imbal hasil benchmark selama 10 tahun menyentuh titik terendah dari 0,685% pada ekspektasi dari stimulus moneter yang lebih dari BOJ, dan bisa lebih rendah setelah Pemilu 16 Desember dengan orang yang paling mungkin menjadi Perdana Menteri, Shinzo Abe -mendorong pelonggaran yang lebih agresif oleh bank sentral.
Halaman 2 dari 9
(zul/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads