"Menambah jalan dimanapun juga akan mengurangi kemacetan," ungkap Djoko selepas acara Konferensi Pers Akhir Tahun Kementerian Pekerjaan Umum, di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Jumat (28/12/12).
"Jakarta itu macet, kenapa macet karena rasio jalan di Jakarta itu masih kecil," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang benar itu (rasio jalan kurang), Itungan saya 6%, sekarang gubernur 7%, kita lihat di Tokyo, New York itu sekitar 20%," tegas Djoko.
Dengan demikian, dikatakan Djoko perlu ada penambahan jalan di Jakarta. Melihat kondisi tanah di Jakarta yang terbatas, yang paling memungkinkan ialah dengan pembangunan jalan layang atau jalan tol yakni 6 ruas jalan tol, disamping memperbaiki sistem dan sarana transportasi publik.
"Jadi kalau mau menyelesaikan kemacetan itu jalannya ditambah, transportasi publiknya diperbaiki. Ini dua-dua nya sudah dilakukan, dan Gubernur sudah paham betul," cetusnya.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) berujar, rasio jalan di Jakarta baru 7,31% dibanding luas wilayahnya. Karena itu butuh pembangunan jalan baru.
Hal ini disampaikan oleh Jokowi saat menjawab pandangan DPRD DKI Jakarta soal RAPBD 2012 yang dikutip, Kamis (27/12/2012).
"Dapat saya informasikan bahwa saat ini road ratio (rasio jalan) di Jakarta baru mencapai 7,31%, sementara target pada RTRW 2030 adalah 10%, sehingga masih dibutuhkan penambahan ruas jalan baru," kata Jokowi.
Dia mengatakan, pembangunan 2 ruas jalan layang non tol selebar 17,5 meter sepanjang 8,5 km di Jakarta, hanya berkontribusi menambah rasio jalan 0,2%.
(zlf/hen)











































