Pengamat transportasi Indonesia, Djoko Setijowarno mengungkapkan besaran tarif Rp 75.000 tersebut terhitung sudah wajar, dan tepat. Besaran ini hampir setara dengan tarif kereta bandara di negara tetangga, Malaysia.
"Tidak mahal, sebagai pembanding di Kuala Lumpur KLIA (Kuala Lumpur International Airport) ke KL Centre, stasiun kereta di pusat kota itu kereta bandara 25-30 ringgit, setara dengan Rp 75 ribu. Jadi sudah pas segitu," ungkap Djoko kepada detikFinance, Senin (7/1/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau setara bus, nanti mereka pindah ke KA (Kereta Api), kasihan bus Perum Damri bangkrut," katanya.
Dari segi pelayanan, kenyamanan dan waktu tempuh, Djoko menilai kereta bandara akan lebih efektif. Mengingat kondisi lalu lintas darat di Jakarta yang semakin semrawut dan padat.
"Kalau pakai kereta mungkin tidak akan lebih dari 1 jam. Kalau bus belum macet-nya, dan bus kita itu tua-tua, lain dibandingkan negara lain yang umur bus-nya di bawah 5 tahun semua," katanya.
Namun, Djoko mempersyaratkan stasiun tempat naik turun penumpang tersebut harus sudah lebih tertata dengan baik.
"Manggarai itu sudah crowded (ramai), harus lebih tertata. PKL-PKL nya juga," tutupnya.
Seperti diketahui, KRL Commuter Line Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) bakal beroperasi awal 2014. Untuk sekali jalan, kereta commuter ini bisa angkut sekitar 600 penumpang.
KRL khusus yang berangkat dari Manggarai-Tangerang-Bandara Soetta ini, bisa menempuh perjalan sekitar 1 jam. Rencananya tarif kereta ini diperkirakan dibanderol Rp 75.000/orang.
(zlf/dru)










































