Soal MRT, Mayoritas Pendanaan Proyek Harus Dari Pemprov DKI

Soal MRT, Mayoritas Pendanaan Proyek Harus Dari Pemprov DKI

Wiji Nurhayat - detikFinance
Rabu, 16 Jan 2013 16:39 WIB
Soal MRT, Mayoritas Pendanaan Proyek Harus Dari Pemprov DKI
Jakarta -

Pemerintah pusat memutuskan porsi pembiayaannya untuk proyek mass rapid transit (MRT) diperbesar dari sebelumnya 42% menjadi 49%. Pemprov DKI Jakarta tetap harus jadi mayoritas.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Kerjasama Internasional Rizal Afandi Lukman mengatakan, peran pemerintah pusat sudah cukup besar dalam proyek tersebut.

"Yang jelas ada komposisi peran sentral pemerintah pusat semakin meningkat. Dari 42% menjadi 49%," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Soal besaran kenaikan presentasi pembiayaan dari 42% menjadi 49%, Rizal mengatakan, peran pemerintah provinsi masih cukup besar. Hal ini karena proyek MRT memang seharusnya menjadi tanggung jawab Pemprov DKI Jakarta.

"Jadi tetap bahwa porsi terbesar harus dimiliki oleh Pemprov. Karena nanti proyeknya ini akan menjadi tanggung jawab utamanya oleh Pemprov-kan," imbuhnya.

Namun Rizal berpendapat, Menko Perekonomian Hatta Rajasa sudah mengatakan ingin meluncurkan proyek ini secepatnya.

"Pak Menko sudah mengatakan MRT itu adalah proyek MPA (Metropolitan Priority Area). MRT ini segera akan diluncurkan karena Japan International Cooperation Agency (JICA) sudah siap membiayai. Dan itu bagus ketika dia ke sini itu sudah selesai," cetus Rizal.

Total nilai proyek adalah sekitar 144 miliar yen dengan besar pinjaman sekitar 120 miliar yen dan selebihnya dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.

Untuk tahap I Lebak Bulus-Bundaran HI, koridor utara-selatan, jalur MRT terdiri dari 13 stasiun MRT. Yaitu sebanyak 7 stasiun sepanjang 7 Km berada di atas (elevated/layang) yaitu stasiun Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete, Haji Nawi, Blok A, Blok M dan Sisingamangaraja.

Sementara itu 6 stasiun sepanjang 6 km berada di bawah tanah yaitu Bundaran Senayan, Istora, Benhil, Setiabudi, Dukuh Atas, Bundaran HI.

Untuk tahap II masih koridor utara-selatan, rencananya stasiun-stasiunnya semuanya di bawah tanah antara lain Kebon Sirih, Monas, Harmoni, Glodok, Kota dan Kampung Bandan.

Mass Rapid Transit Jakarta (MRT Jakarta) yang berbasis rel rencananya akan membentang kurang lebih ± 110,8 Km, meliputi dua koridor utama, yaitu:

Koridor Utara-Selatan

Koridor ini terdiri dari Koridor Selatan-Utara (Koridor Lebak Bulus-Kampung Bandan) sepanjang kurang lebih ± 23,8 km dan Koridor Timur–Barat sepanjang kurang lebih ± 87 km. Koridor ini dilakukan dalam 2 tahap:

Tahap I yang akan dibangun terlebih dahulu menghubungkan Lebak Bulus sampai dengan Bundaran HI sepanjang 15,7 km dengan 13 stasiun (7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah) ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2016.

Tahap II akan melanjutkan jalur Selatan-Utara dari Bundaran HI ke Kampung Bandan sepanjang 8,1 Km yang akan mulai dibangun sebelum tahap I beroperasi dan ditargetkan beroperasi 2018 dipercepat dari 2020. Studi kelayakan untuk tahap ini sudah selesai.

Koridor Timur-Barat

Koridor ini masih dalam tahap studi kelayakan. Koridor ini ditargetkan paling lambat beroperasi pada 2024-2027.

(wij/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads