Madi (54), pedagang telur mengatakan, terhitung sudah 2 minggu harga telur naik di pasaran, baik telur ayam, bebek, maupun puyuh. Namun, kata Madi, kenaikan harga telur bukan disebabkan banjir yang menggenangi Jakarta dua hari terakhir.
"Sebelum banjir emang sudah naik. Sudah dua minggu telur naik jadi bukan karena banjir," katanya saat ditemui detikFinance, di Pasar Jati Rawasari, Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat, Sabtu (19/1/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama 2 minggu ini naik berturut-turut, dari Rp 18.000, terus Rp 18.500, naik lagi Rp 19.000, terus Rp 19.500, terus sekarang jadi Rp 20.000," paparnya.
Kata Madi, kenaikan harga telur tersebut dibarengi dengan naiknya harga telur ayam per peti-nya dari semula Rp 265 ribu per peti, sekarang menjadi Rp 270 ribu per peti.
"Satu peti isinya 14,5 kilo. Terus kan dibagi per kilonya jadi berapa. Belum yang pecahnya," kata dia.
Sementara itu, harga telur bebek dan telur puyuh pun ikut naik. Dia menyebutkan, harga telur bebek naik menjadi Rp 2.200 per butir dari sebelumnya yang hanya Rp 2.000 per butir. Selain itu, harga telur puyuh ikut naik naik dari sebelumnya 10 butir dibanderol dengan harga Rp 2.500, kini menjadi Rp 3.000 per 10 butir.
"Kalo telur bebek sama puyuh dijualnya per butir enggak pake kilo. Kalo telur ayam kampung per butirnya Rp 1.500 tadinya, sekarang jadi Rp 1.600. Kalo dari agen beralasan telur naik karena banjir itu bohong. Itu permainan spekulan," kata Madi.
Pada kesempatan yang sama, Kaminem (55), pedagang sayur-mayur di pasar tersebut mengaku, harga sayur-mayur di pasaran memang tidak pernah stabil karena dipengaruhi permintaan konsumen dan persediaan barang yang ada. Namun, dia juga mengaku banjir turut mempengaruhi kenaikan harga-harga bahan pangan di pasaran karena ongkos produksi naik.
"Harga sayur mayur enggak stabil naik turun. Bila banyak murah bila kosong naik. Banjir ngaruh juga karena biaya naik," kata Kaminem saat disambangi detikFinance.
Namun, hal itu tidak berpengaruh pada harga daging ayam. Aman (42) mengaku, meskipun Jakarta sempat banjir besar kemarin, namun harga daging ayam masih stabil. "Banjir ngga ngaruh udah biasa. Standar aja harganya Rp 32 ribu per ekor, biasanya Rp 30 ribu per ekor, naik Rp 2 ribu. Tapi itu sudah biasa kayak gitu," katanya.
"Harga per kilonya tergantung, masih stabil juga. Kalo di pasar besar kayak Senen, Kelapa Gading, mereka pake kiloan. Kalo pasar kecil kayak disini pakenya per ekor. Seluruh pasar Cempaka Putih pakenya per ekor kalo jual. Masih stabil," tambahnya.
Berikut harga bahan-bahan pokok yang naik :
- Bawang putih
Harga beli awal : Rp 20 ribu per kilo, saat ini Rp 27 ribu per kilo. Harga jual (ke konsumen) : Rp 30 ribu.
- Bawang bombay
Harga jual ke konsumen : semula Rp 26 ribu per kg menjadi Rp 27 ribu per kg.
- Cabe rawit merah
Seminggu terakhir naik menjadi Rp 33 ribu per kg dari semula Rp 30 ribu per kg.
- Cabe rawit biasa
Semula Rp 23 ribu per kg menjadi Rp 25 ribu per kg.
- Bawang merah
Harga semula Rp 16 ribu per kg menjadi Rp 18 ribu per kg.
- Tomat
Harga semula Rp 9 ribu per kg menjadi Rp 11 ribu per kg.
(ang/ang)










































