DPR Setujui APBNP dan RAPBN 2005
Selasa, 28 Sep 2004 17:25 WIB
Jakarta -
DPR akhirnya menyetujui APBN Perubahan dan RAPBN 2005 disahkan menjadi UU. Namun persetujuan ini diwarnai minderheitnota (Nota ketidaksetujuan) dari Fraksi Reformasi (FR).Demikian kesimpulan rapat paripurna DPR yang dipimpin Wakil Ketua DPR AM Fatwa, di gedung DPR, Jl. Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (28/9/2004). Rapat tersebut juga dihadiri Menkeu ad interim, yang juga Menko Perekonomian, Dorodjatun Koentjara_Jakti.Dalam pandangan fraksi, lewat jubirnya Nurdiati AKMA, FR menolak rancangan perubahan APBN 2004 dan RAPBN 2005. Pasalnya, dalam APBN perubahan 2004 subsidi BBM membengak menjadi Rp 63 triliun dari rencana semula Rp 14,5 triliun.FR menilai kenaikan subsidi itu tidak realistis karena hanya mendasarkan pada kenaikan harga minyak internasional. Selain itu, FR juga menolak alokasi dana talangan kepada KPU sebesar Rp 297 miliar, FR menganggap hal tersebut di luar prosedur.Patokan inflasi yang semula 6,5 persen menjadi 7 persen dianggap berisiko. FR juga menyatakan, asumsi nilai rupiah yang dipatok Rp 8.900 per dolar sulit dicapai.Pimpinan sidang AM Fatwa, sempat menskors persidangan selama 5 menit yang kemudian molor 15 menit untuk dilakukan lobi. Hal ini mengingat penolakan hanya dilakukan oleh FR. Akhirnya diputuskan, kadar penolakan FR diturunkan menjadi nota ketidaksetujuan.Lewat juru bicara lainnya, Joko Susilo, FR menyatakan minderheitnota disampaikan karena FR tidak setuju terhadap 3 hal. Pertama pembengkakan subsidi BBM 2004 yang mencapai Rp 63 triliun, kedua alokasi subsidi BBM tahun 2005 yang masih sebesar Rp 19 trilun. Ketiga angka devisit tahun 2005 yang mencapai Rp 17,3 trilun. Padahal menurut propenas seharusnya 0 persen.Anggota FR yang menandatangani minderhietnota adalah, Zulkifli Halim, Suminto Martono, Muchtar Adam, Aan Rohana, Mutamimmul Ulla, Rada Roesli, Yoyoh Yusroh, Nurbiati AKMA, Cecep Rukmana, Djoko Susilo, R Sulaiman, dan TB Syuman Jaya.Pemerintah dalam APBN 2005 mengasumsikan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen, inflasi 5,5 persen, nilai tukar Rp 8600 per dolar, harga minyak US $ 24 dolar per barrel, produksi minyak 1,125 juta barrel per hari. Sementara asumsi dasar dalam APBNP 2004 pertumbuhan ekonomi dipatok 4,8 persen, inflasi 7 persen, nilai tukar Rp 8.900 per dollar, harga minyak US $ 36 dolar per baller, produksi minyak 1,072 juta barrel per hari, dan tingkat suku bunga SBI 7,5 persen.
(djo/)










































