Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono menyebutkan tarif kereta bandara tersebut akan lebih mahal dari angkutan Bus Damri menuju Bandara namun akan lebih murah dari harga seorang penumpang naik taksi ke tujuan yang sama.
"Saya belum tahu (besarannya), tapi tentu akan lebih mahal dari damri, diatas damri dan dibawah taksi lah," ungkap Bambang di acara peluncuran bukunya yang berjudul Transportasi dan Investasi di Gramedia Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (29/1/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka akan itung-itungan juga. Kalau mahal nggak ada yang naik kan rugi juga. Nanti harus dilihat dari willingness to pay, dan ability to pay," jelasnya.
Sebelumnya, Kepala Humas KAI Sugeng Priyono menjelaskan, KRL Commuter ini akan berbeda dengan konsep KRL yang telah ada karena akan memberikan pelayan terbaik. Sehingga untuk tarif, setiap penumpang akan dikenakan sekitar Rp 75.000 per perjalanan.
"Dari Jakarta Rp 75.000 dengan rangkaian baru, gerbong baru kelas bandara," tuturnya.
Sugeng menegaskan pihaknya sama sekali tidak mendapatkan subsidi sehingga betul-betul dijual dengan tarif komersial. "Kereta bandara ini betul-betul tarif komersial," tambahnya.
Semantara itu, Dirut KAI Ignasius Jonan menjelaskan untuk kepastian tarif KRL Commuter ini masih bisa berubah atau belum final. "Belum final," tambahnya.
(zlf/dru)










































