Adanya dugaan kasus suap yang dilakukan oleh PT Indoguna Utama kepada anggota DPR memunculkan pertanyaan mengapa hal ini bisa terjadi? Bagi kalangan pengusaha, kejadian itu dipicu oleh kurangnya kuota impor daging di 2013.
Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) DKI Jakarta Sarman Simanjorang, kepada detikFinance, Kamis (31/1/2013)
"Menurut saya itu ekses dari kurangnya kuota impor daging sapi, pengusaha menghalalkan segala cara," kata Sarman beralasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kuota impor daging sapi tahun 2011 sampai 90.000 ton saat itu harga stabil, tahun 2012 turun jadi 34.000 ton, tahun ini cuma 32.000 ton terjun bebas," katanya.
Sarman menuturkan seharusnya kuota impor daging tahun ini mencapai 85.000 ton (hanya daging beku). Menurutnya dengan kuota daging tahun ini hanya 32.000 ton, sangat beralasan para importir daging teriak-teriak dan melakukan upaya-upaya segala cara.
"Yang parah lagi, 32.000 ton itu dibagi dua semester, semestar pertama direalisasikan 60% atau 19.200 ton, kita nggak tahu siapa perusahaan-perusahaannya, 40% sisanya di semester kedua," katanya.
Ia juga mengatakan ekses lain dari adanya kurangnya kuota impor daging adalah adanya kasus peredaran daging celeng dan peredaran daging sapi ilegal. Harga daging yang saat ini bertahan Rp 90.000 per kg, menunjukkan pasokan daging masih tersendat.
"Saya harap dengan kejadian ini memontum pemerintah mengevaluasi kembali soal kuota impor daging 2013," katanya. (hen/dnl)










































