Kepala BPS Suryamin menyebutkan, ekspor Desember 2012 sebesar US$ 15,41 miliar atau turun 9,78% dibandingkan Desember 2011.
"Untuk ekspor migas sebesar US$ 2,96 miliar, sementara ekspor non migas USD$ 12,44 miliar," ujar Suryamin dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Dr. Sutomo, Jakarta, Jumat (1/2/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Barang ekspor terbesar Indonesia adalah bahan bakar mineral sebesar US$ 26,41 miliar dan lemak dan minyak hewan nabati senilai US$ 21,3 miliar.
Suryamin menyebutkan, pangsa ekspor terbesar Indonesia adalah ke China yaitu sebesar US$ 20,86 miliar, Jepang sebesar US$ 17,23 miliar, dan AS sebesar US$ 14,59 miliar. Kemudian ekspor ke negara ASEAN sebesar US$ 31,27 miliar untuk pangsa pasar sebesar 20,42% dan Uni Eropa senilai US$ 17,95 miliar dengan pangsa pasar 11,73%.
"Secara volume meningkat tetapi terjadi penurunan harga komoditas karena krisis," ujarnya.
Sementara itu, impor Desember 2012 sebesar US$ 15,56 miliar atau turun 5,55% dibanding Desember 2011 sebesar US$ 16,48 miliar. Untuk impor migas sebesar US$ 3,71 miliar dan impor non migas sebesar US$ 11,86 miliar.
"Total impor Januari hingga Desember 2012 sebesar US$ 191,67 miliar atau naik 8,02 persen pada periode sama tahun lalu dengan impor non migas sebesar US$D 149,11 miliar atau naik 9,05 persen pada periode sama tahun lalu," ujarnya.
Impor terbesar, lanjut Suryamin, adalah mesin dan peralatan mekanik US$ 28,42 miliar, serta mesin dan peralatan listrik sebesar US$ 18,9 miliar.
Negara asal barang impor terbesar ke Indonesia adalah dari China dengan nilai perdagangan US$ 28,96 miliar, Jepang sebesar US$ 22,69 miliar, Amerika Serikat sebesar US$ 11,47 miliar. Sedangkan impor dari negara ASEAN senilai US$ 31,72 miliar dengan pangsa pasar 21,28%, serta impor dari negara Uni Eropa sebesar US$ 14,06 miliar dengan pangsa pasar sebesar 9,43%.
Dengan realisasi perdagangan tersebut, Suryamin menyatakan pada Desember 2012 terjadi defisit kembali sebesar US$ 155,2 juta, sehingga secara kumulatif defisit sebesar US$ 1,63 miliar.
"Jadi ya karena penurunan harga komoditas tadi karena secara kuantitas sebenarnya meningkat," tandasnya.
(nia/dnl)











































