Mendag Usul RI dan Nigeria Bentuk Preferential Trade Agreement

Laporan dari Abuja

Mendag Usul RI dan Nigeria Bentuk Preferential Trade Agreement

Arifin Asydhad - detikFinance
Minggu, 03 Feb 2013 05:46 WIB
Mendag Usul RI dan Nigeria Bentuk Preferential Trade Agreement
(Foto: Arifin A/detikcom)
Abuja - Kerja sama investasi dan perdagangan antara Indonesia dan Nigeria sudah berjalan baik. Namun, nilai impor Indonesia ke Nigeria lebih tinggi dibanding ekspor. Untuk mendorong ekspor Indonesia ke Nigeria lebih tinggi, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengusulkan Indonesia dan Nigeria membentuk preferential trade agreement (PTA).

Salah satu impor yang tinggi yang dilakukan Indonesia dari Nigeria adalah gas. Jumlah impor gas ini semakin lama akan semakin tinggi. Sementara barang-barang Indonesia yang masuk ke Nigeria masih dikenai tarif yang tinggi.

"Karena itulah, agar semakin banyak produk Indonesia masuk ke Nigeria, maka kedua negara perlu membentuk PTA," kata Gita Wirjawan kepada wartawan di Hotel Transcorp Hilton, Abuja, Nigeria, Sabtu (2/2/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

PTA adalah sebuah pakta perdagangan antara dua negara yang mengurangi tarif untuk produk tertentu ke negara-negara yang menandatangani perjanjian. PTA ini tidak akan menghilangkan tarif, tapi menyepakati pemberian tarif yang lebih rendah kepada produk-produk ke masuk di antara dua negara.

Menurut Gita, kemungkinan Nigeria setuju dengan PTA ini. Dalam pertemuan bilateral antara Presiden SBY dan Presiden Nigeria Goodluck Abelle Jonathan, juga dibahas hal ini. Bahkan, Nigeria menginginkan rencana itu segera tercapai dan terimplementasikan dalam waktu dua atau tiga tahun ke depan.

Dengan adanya PTA, maka perdagangan bilateral kedua negara bisa seimbang. Selama ini, ekspor Indonesia ke Nigeria selalu meningkat dengan pertumbuhan 14 persen tiap tahun. Namun, nilai impor Indonesia dari Nigeria meningkat lebih tinggi sekitar 21 persen per tahun.

Barang-barang yang diinginkan Nigeria, kata Gita, hampir sama dengan yang diinginkan Liberia. "Ya ada furnitur, garmen, tekstil. Hampir sama dengan yang diminta Liberia," ujar Gita.

Saat ini, lanjut Gita, sudah ada 20-an perusahaan Indonesia yang menanamkan investasi di Nigeria. "Sudah ada banyak. Tidak ada hanya Indofood, tapi juga ada Wings Group dan perusahaan-perusahaan lainnya. Sedangkan di Liberia, Sinar Mas juga sudah punya hak lahan sekitar 250 ribu hektar," kata dia.



(asy/asy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads