Dirut KAI: Kami Ingin Seluruh Masyarakat Termasuk Elit dan Kelas Menengah Pakai Kereta

Dirut KAI: Kami Ingin Seluruh Masyarakat Termasuk Elit dan Kelas Menengah Pakai Kereta

Wahyu Daniel - detikFinance
Senin, 04 Feb 2013 07:42 WIB
Dirut KAI: Kami Ingin Seluruh Masyarakat Termasuk Elit dan Kelas Menengah Pakai Kereta
Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (KAI) bakal terus berbenah dan menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, terutama di perkotaan besar. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) transportasi ini ingin seluruh lapisan masyarakat, termasuk kalangan elit dan kelas menengah menggunakan kereta sebagai alat transportasi utama. Apa caranya?

Kepada detikFinance, Senin (4/2/2013), Direktur Utama KAI Ignasius Jonan mengatakan, dalam surat internal mingguan dirinya kepada jajaran 1.500 personel tingkat pimpinan di KAI, dia ingin perbaikan terus dilakukan.

"Sewaktu saya mampir di Stasiun Cirebon, Kemarin saya bertemu pemilik hotel dan mal Grage yang berlokasi di tengah kota Cirebon. Yang bersangkutan mengatakan bahwa Starbucks tidak mau buka lokasi di kompleks mal mereka, tapi kok mau di Gambir ya? Starbucks adalah salah satu lambang kosumerisme perkotaan yang mewabah di seluruh dunia dan sekarang masuk ke stasiun terbaik kita: Gambir. Terima kasih pada jajaran Komersial yamg dipimpin Direktur Komersial dan KSB Gambir,' tutur Jonan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun Jonan mengatakan, masuknya Starbucks ini tidak mengubah misi dan tugas KAI. "Perkeretaapian kita akan mulai menyesuaikan tuntutan zaman terutama di perkotaan besar. Kita ingin melihat lagi bahwa seluruh lapisan masyarakat mulai kembali lagi menggunakan jasa KA, seluruh elite dan kelas menengah atas Indonesia kembali menggunakan KA," kata Jonan.

Dia bercerita, di 2012 ini, okupansi atau tingkat pembelian tiket kereta penumpang semakin tinggi. Baik itu hari libur, akhir pekan maupun hari biasa. Rata-rata tingkat okupansi kereta, ujar Jonan, selalu di atas 75% atau naik 10% dibandingkan 2011. Jumlah penumpang KAI selama 2012 adalah 210 juta, naik dari 2011 yang mencapai 193 juta penumpang.

"Kok bisa ya? Kita menerapkan aling-aling, menerapkan kebijakan 100% tempat duduk untuk jarak jauh, mengontrol ketat penumpang KRL, sistem boarding dan lain sebagainya, ternyata jumlah penumpang bertambah hampir 20 juta di tahun lalu," tegas Jonan.

Kemudian, lanjut Jonan, di 2012, jumlah karcis non KRL yang dibeli di luar stasiun atau dari agen, internet, dan call center 121 mencapai 38%. "Ini berarti kita bisa memanfaatkan loket di stasiun lebih maksimal lagi, untuk mencapai angkutan tahun ini melebihi 230 juta penumpang. Apa bisa tanpa menambah kereta? Tentu kereta ditambah seiring datangnya locomotif-locomotif baru di Jawa dan Sumatera dan dialokasikan dengan lebih efisien," ujar Jonan.

Selain itu, Jonan meminta jajarannya terus membenahi sistem keamanan dan kebersihan stasiun. Pelayanan menurutnya harus baik dan ramah, demikian juga dengan keselamatan, serta sarana dan prasarana yang makin andal dan bersih.

"Pendapatan KAI di tahun 2012 telah mencapai sekitar Rp 7,1 triliun, bandingkan dengan pendapatan KAI di 2008 sebesar Rp 4,2 triliun. Semua karena kerja keras, datangnya locomotif dan gerbong baru, efisiensi operasi dan pengadaan yang lebih efektif dan praktik tercela yang makin berkurang," katanya.

Namun, kata Jonan, dari berbagai gosip, masih ada saja yang merasa dizalimi karena bisnisnya terganggu di KAI.

"Apa tidak rela melihat KAI maju? Apakah beberapa oknum tetap hatinya di para rekanan secara tidak fair? Saya mohon untuk berubah atau KAI tidak akan berkembang. Bagaimana keuntungan KAI di 2012? Walaupun keuntungan bukanlah target utama, namun ini harus dicapai juga untuk peremajaan alat produksi dengan baik," tutupnya.

(dnl/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads