Pengusaha: Tak Hanya Sapi, Suap Impor yang Lain Juga Banyak!

Pengusaha: Tak Hanya Sapi, Suap Impor yang Lain Juga Banyak!

- detikFinance
Senin, 04 Feb 2013 09:55 WIB
Pengusaha: Tak Hanya Sapi, Suap Impor yang Lain Juga Banyak!
Jakarta - Kasus dugaan suap impor daging sapi yang terjadi belakangan ini cukup memprihatinkan di tengah usaha pemerintah menggalakkan swasembada pangan. Apakah praktik suap ini hanya sebatas di impor daging sapi saja?

Wakil Ketua Umum Kadin bidang Pemberdayaan Daerah dan Bulog Natsir Mansyur mengatakan, kasus suap untuk melancarkan jatah impor sudah terjadi sejak lama, baru sekarang saja terungkap.

"Ini istilahnya sudah dari zaman Belanda ini, yang sedikit minta banyak. Yang banyak minta lebih banyak lagi," ungkap Natsir saat dihubungi detikFinance, Senin (4/2/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu, mengapa baru sekarang terungkap? Natsir mengatakan ini karena KPK sudah sangat bekerja baik. "Saya tidak tahu kenapa, KPK sudah punya alat canggih mungkin untuk mengungkap kasus ini," imbuh Natsir.

Bahkan, Natsir mengatakan, potensi terjadinya suap tak hanya terjadi pada impor daging sapi saja. Dia mengatakan, semua komoditi impor yang mendapat rekomendasi dari Kementerian Pertanian pun, menjadi ladang bagi para oknum pengusaha untuk melakukan suap sehingga bisa mendapatkan jatah impor untuk bisnisnya.

"Bukan hanya sapi, banyak! Semua komoditi pertanian, beras, gula, kedelai, bermacam-macam. Ini perlu dikaji, kebijakannya perlu transparan," tegasnya.

Natsir mengatakan, walaupun kasus suap impor pangan merupakan tanggung jawab dan pelajaran bagi Kementerian Pertanian yang secara teknis mengatur kuota impor, andil dari oknum pengusaha pun begitu besar dalam hal ini.

"Sepanjang manusia masih memikirkan kantongnya, di sinilah letaknya. Dan kalau kuota ini terbatas, suap menyuap pasti ada, yang sedikit minta banyak, yang banyak minta lebih banyak lagi," katanya.

Ingin tahu produk pangan yang diimpor Indonesia selama ini? Cek di sini.

(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads