Akibat Melonjaknya Harga Minyak
Pertamina Rugi Rp 1,5 T dari LPG
Rabu, 29 Sep 2004 14:45 WIB
Jakarta - PT Pertamina (Persero) diperkirakan akan mengalami kerugian sebesar Rp 1,5 triliun selama 2004 dari bisnis elpijinya (Liquified Petroleum Gas/LPG) akibat kenaikan harga minyak mentah dunia yang mencapai 50 dolar AS per barrel. Pasalnya minyak dunia merupakan bahan baku utama elpiji.Diperkirakan dengan harga minyak 36 dolar AS per barel, biaya pokok elpiji Pertamina menjadi 312 dolar AS per metrik ton atau jauh lebih rendah dibandingkan cost price Aramco yang menjadi patokan harga pasar dunia yang mencapai 383 dolar AS per barel. Harga tersebut diperkirakan akan terus merangkak naik seiring dengan peningkatan harga minyak yang terus merangkak naik.Demikian data yang diperoleh detikcom di Jakarta, Rabu, (29/9/2004).Data tersebut juga mengungkapkan konsumsi elpiji terus mengalami peningkatan dari 83.000 metrik ton per bulan pada 2003 menjadi 100.000 metrik ton pada 2004. Dengan asumsi volume konsumsi dan harga minyak yang terus meningkat, maka hingga saat ini saja Pertamina sudah mengalami kerugian sekitar Rp 1.260 per kilogram.Ketika hal tersebut dikonfirmasi, juru bicara Pertamina Mochamad Harun, membenarkan adanya kerugian yang akan diderita perusahaannya dalam mengelola bisnis elpiji. "Menurut perkiraan saya memang cukup besar kerugian yang diderita perusahaan karena melambungnya harga minyak," ujar Harun.Ketika ditanya apakah ada rencana kenaikan, dia mengatakan, "Kami masih mengkaji soal kenaikan, tapi kajiannya belum final." Namun demikian, Harun mengaku Pertamina akan meningkatkan pelayanan pelanggan berupa jaminan ketepatan isi, kelengkapan tabung serta menambah petugas pengawas di lapangan.
(mi/)











































