Neraca Perdagangan China Tetap Surplus di Tengah Krisis Global

Neraca Perdagangan China Tetap Surplus di Tengah Krisis Global

- detikFinance
Senin, 04 Feb 2013 16:36 WIB
Neraca Perdagangan China Tetap Surplus di Tengah Krisis Global
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Ketidakpastian ekonomi karena krisis yang terjadi di Amerika Serikat maupun di Eropa tahun lalu, ternyata tidak berpengaruh banyak kepada perdagangan China.

Saat banyak negara di dunia yang surplus neraca perdagangannya turun karena ekspor melemah, China justru mampu meningkatkan surplus perdagangannya, yang berarti angka ekspornya naik.

"Negara yang neraca perdagangannya masih membaik adalah China, yang surplus perdagangannya meningkat 47,5%," kata Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (4/1/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal menurut Bayu, dampak kondisi perekonomian global yang belum membaik memberikan tekanan terhadap kinerja perdagangan di banyak negara. Beberapa negara yang neraca perdagangannya memburuk antara lain Thailand dan Hong Kong yang defisit perdagangannya meningkat masing-masing 136,1% dan 9,4%, serta Brasil dan Korea Selatan yang surplus perdagangannya menurun masing-masing 34,8% dan 8,2%.
Sementara itu China justru surplus perdagangannya meningkat 47,5%. Salah satu yang menopang pertumbuhan itu adalah kontribusi ekspor China.

"Seperti contoh pasar China, Indonesia menempati posisi ke-14 sebagai negara tujuan ekspor China tahun 2012 dengan kontribusi sebesar 1,7% terhadap total ekspor China," katanya.

Indonesia memang termasuk negara tujuan ekspor yang memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan ekspor China. Selain Indonesia ada Hong Kong, Rusia, Singapura, dan Amerika Serikat. Hampir semua produk utama ekspor China mengalami peningkatan di 2012.

"Furnitur merupakan salah satu produk utama ekspor China yang berkontribusi signifikan terhadap peningkatan ekspor China tahun 2012, selain itu optik, plastik, alas kaki, kendaraan dan electric machinery," tandasnya.

Sementara Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, selama 2012 lalu jumlah ekspor Indonesia US$ 190,04 miliar sementara impor US$ 191,67 miliar. Dengan jumlah tersebut, maka defisit neraca perdagangan Indonesia di 2012 mencapai US$ 1,63 miliar.

(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads