Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar di Hotel JW Marriott Jakarta, Rabu (6/2/2013).
"Neraca perdagangan migas dan non migas, sejak 1961 mengalami defisit tertinggi. Kalau tren berjalan itu dibiarkan, kita akan mengalami defisit neraca migas bertambah (besar)," tutur Mahendra.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Solusi saat ini adalah mengendalikan volume konsumsi ataupun besaran subsidi yang akan dikucurkan untuk tahun 2013. Selain itu, pemerintah pusat siap mendukung kebijakan pemerintah daerah yang mengeluarkan kebijakan pro pengurangan konsumsi BBM seperti pengembangan moda transportasi massal.
"Kita harus jaga subsidinya, arahan sampai saat ini mengendalikan volume. Kemenkeu melihat besaran nilai subsidi. Yang penting efektifitas harus dijaga," tambahnya.
Seperti diketahui, kinerja perdagangan Indonesia pada 2012, impor mencapai US$ 191,67 miliar dan ekspor US$ 190,04 miliar sehingga terjadi defisit sebesar US$1,63 miliar.
Defisit neraca perdagangan ini, disumbang oleh defisit migas sebesar US$5,59 miliar namun hal tersebut ditolong oleh surplus non migas sebesar US$ 3,96 miliar.
(hen/dru)











































