Ketua Umum Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso (Apmiso) Trisetyo Budiman menuturkan, dibanding menaikkan harga, para pedagang bakso memilih untuk mengubah racikan baksonya, dengan memperbanyak adonan sagu. Bahkan tak sedikit yang menambahkan daging ayam.
"Kalau harga segitu (tinggi) baksonya itu sagunya dibanyakin. Harga tetap," ungkap Trisetyo saat dihubungi detikFinance, Rabu (6/2/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau pedagang yang tertekan sama harganya, satu adonan 8 kg komposisinya 4 kg daging sapi, 2 kg daging ayam ditambah sagu 2 kg. Ini kan berpengaruh sama rasa, bakso itu yang penting konsistensi rasanya," jelasnya.
Namun, dia mencatat, hal ini hanya terjadi pada pedagang bakso kelas menengah ke bawah. Dengan kata lain, pedagang bakso yang banyak ditemui dengan menggunakan gerobak, motor, dipikul atau lainnya. Ini tak berlaku untuk pedagang bakso yang kelas atas.
"Kalau pedagang bakso gedongan misalnya satu adonan 8 kg, daging sapi 7 kg, dan sagu 1 kg," katanya.
Dia menjelaskan, dari sekitar 3,5 juta pedagang bakso yang tercatat sebagai anggota Apmiso, 85% diantaranya adalah pedagang bakso kelas menengah ke bawah. Menurutnya, pedagang bakso seperti itu lah yang sangat terpukul dengan kenaikan harga daging sapi ini.
"Kalau kelas-kelas atas itu nggak usah dipikirin karena hanya 5%. Itu yang 85% itu yang harus dipikirkan. Tantangannya, pemerintah harus menjaga yang 85% itu," tegasnya.
(zlf/ang)











































