Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Pedagang Daging Sapi Indonesia Dadang Iskandar saat ditemui di sela acara audiensi dengan Komisi IV DPR RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (7/2/2012).
"Kami memohon pemerintah bisa mengimpor sapi trading yang siap potong untuk mengatasi gejolak harga yang terjadi," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan, harga sapi trading berkisar di harga 2 dolar Australia. Menurutnya, harga itu lebih murah jika dibandingkan daging beku dan sapi bakaln yang harganya mencapai lebih dari 3 dollar Australia.
"Sapi trading itu lebih murah. Sekitar 2, sekian dolar (australia), saya juga belum tahu pasti harganya. Tapi yang pasti lebih murah. Dan bisa menurunkan harga sapi lokal yang ada di RPH," katanya.
Mekanismenya, lanjut Dadang, adalah dengan menyisihkan 10% dari jatah kuota impor daging sapi yang tahun ini mencapai 80 ribu ton. Diketahui, pemerintah merencanakan untuk mengimpor 80 ribu ton daging sapi yang terdiri dari 60% sapi bakalan, dan 40% daging sapi beku.
"Nah kita memohon yang 40% daging beku itu diambil 10% untuk sapi trading. Itu pun hanya sementara. Rasanya sama, kualitasnya sama," tutupnya.
(/)











































