JK mengatakan, pemicu utama permasalahan yang saat ini terjadi ialah produktivitas pangan dalam negeri masih rendah. Dikatakan JK, jika produktivitas dalam negeri ditambah, maka otomatis kartel suap akan hilang.
"Satu-satunya cara adalah meningkatkan produktivitas dalam negeri. (Contohnya) Kalau jagung dinaikkan pasti kartel itu hilang sendiri," ungkap JK di acara Pesta Wirausaha Menyongsong Indonesia Emas di JIEXPO, Kemayoran, Jakarta, Jumat (8/2/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau pakai kuota pasti tumbuh kartel seperti itu," imbuhnya.
Seperti diketahui sebelumnya, Komisi Pengawasan dan Persaingan Usaha (KPPU) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) membeberkan penemuan praktik kartel terutama di gula dan ayam.
"Nanti ada di data KPPU (lebih lengkap) saya lupa. Tapi dari 9 mengerucut jadi 6 saja yang menguasai gula di seluruh Indonesia," ungkap Komisioner KPPU Munrokhim Misanam di Gedung Kadin, Kuningan, Jakarta, Kamis (7/2/2013).
Selain itu, dia tidak menutup kemungkinan praktik kartel juga terjadi pada komoditas lain, sebut saja kedelai dan daging sapi yang sedang heboh. Ia tidak mau berkomentar terkait dugaan praktik kartel yang dilakukan oleh PT Indoguna Utama selaku importir daging.
"No comment (soal Indoguna), saya belum tahu. Tapi khusus daging sapi tanpa kartel pun tetap seperti itu (mahal harganya) karena permintaan. Kedelai jumlah importir yang terbatas menguasai pasokan dan itulah yang dikomplain banyak orang," tuturnya.
(zlf/dru)











































