JK Angkat Bicara Soal Kartel dan Suap Impor Daging

JK Angkat Bicara Soal Kartel dan Suap Impor Daging

Zulfi Suhendra - detikFinance
Jumat, 08 Feb 2013 14:22 WIB
JK Angkat Bicara Soal Kartel dan Suap Impor Daging
Jakarta - Permasalahan pangan yang menimpa Indonesia tergolong rumit. Mulai dari permasalahan suap-menyuap impor, hingga dominasi kartel terhadap beberapa komoditi. Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) angkat bicara.

JK mengatakan, pemicu utama permasalahan yang saat ini terjadi ialah produktivitas pangan dalam negeri masih rendah. Dikatakan JK, jika produktivitas dalam negeri ditambah, maka otomatis kartel suap akan hilang.

"Satu-satunya cara adalah meningkatkan produktivitas dalam negeri. (Contohnya) Kalau jagung dinaikkan pasti kartel itu hilang sendiri," ungkap JK di acara Pesta Wirausaha Menyongsong Indonesia Emas di JIEXPO, Kemayoran, Jakarta, Jumat (8/2/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengatakan, hal tersebut harus diimbangi dengan kebijakan pembagian kuota yang jelas. "Utamanya itu produktifitas kecil, dan kuota makin kecil. Kalau makin kecil timbulah kartel dan perdagangan izin, dan naik harga," tegasnya.

"Kalau pakai kuota pasti tumbuh kartel seperti itu," imbuhnya.

Seperti diketahui sebelumnya, Komisi Pengawasan dan Persaingan Usaha (KPPU) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) membeberkan penemuan praktik kartel terutama di gula dan ayam.

"Nanti ada di data KPPU (lebih lengkap) saya lupa. Tapi dari 9 mengerucut jadi 6 saja yang menguasai gula di seluruh Indonesia," ungkap Komisioner KPPU Munrokhim Misanam di Gedung Kadin, Kuningan, Jakarta, Kamis (7/2/2013).

Selain itu, dia tidak menutup kemungkinan praktik kartel juga terjadi pada komoditas lain, sebut saja kedelai dan daging sapi yang sedang heboh. Ia tidak mau berkomentar terkait dugaan praktik kartel yang dilakukan oleh PT Indoguna Utama selaku importir daging.

"No comment (soal Indoguna), saya belum tahu. Tapi khusus daging sapi tanpa kartel pun tetap seperti itu (mahal harganya) karena permintaan. Kedelai jumlah importir yang terbatas menguasai pasokan dan itulah yang dikomplain banyak orang," tuturnya.

(zlf/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads