Kepercayaan Konsumen Masih Rapuh
Kamis, 30 Sep 2004 14:54 WIB
Jakarta - Ditengah antusiasme sebagian besar masyarakat terhadap pilpres, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) selama Agustus 2004 justru rontok 3,2 persen menjadi 98,0.IKK Agustus rontok karena dua komponen yang mendasari perhitungannya, yakni Indeks Situasi Sekarang (ISS) dan Indeks Ekspektasi (IE) turun masing-masing 4,6 persen menjadi 76,0 dan 2,5 persen menjadi 114,5.Berdasarkan survei yang dilakukan Danareksa Research Institute (DRI) terhadap sekitar 1.700 rumah tangga di enam wilayah survei, dipaparkan, semua komponen ISS dan IE mengalami penurunan di tengah rumors pemilu yang sering kali bertentangan, sehingga tidak memperjelas masalah."Justru sebaliknya ini malah membuat konsumen bingung," kata analis DRI Stefanus P. Susanto dan David Sumual dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis, (30/9/2004).Diungkapkan, dengan adanya pertanyaan di benak banyak orang mengenai siapakah yang seharusnya memimpin negeri ini, kepercayaan terhadap pemerintah saat ini melemah yang tercermin dari anjloknya IKK terhadap pemerintah sebesar 8,9 persen menjadi 115,3."Turunnya kepercayaan terhadap kemampuan pemerintah untuk mengendalikan negeri ini mungkin mencerminkan kekecewaan masyarakat yang calon presidennya tidak lolos pilpres pertama, atau hal ini dapat pula mencerminkan kegelisahan masyarakat yang pilihannya lolos ke putaran final," papar keduanya.Yang pasti, hasil pilpres pertama telah membuat kecewa sekitar 47,2 juta pemilih yang calonnya gagal maju ke putaran berikut, namun menyenangkan sekitar 71,4 juta pemilih yang calonnya lolos ke putaran kedua pilpres.Sementara, pemilih yang kecewa pada hasil peilpres pertama pada Juli, lanjut keduanya, kemungkinan ragu menetapkan pilihannya. Pemilih yang calonnya lolos juga gelisah karena mereka ragu apakah calonnya dapat menjadi presiden dan wapres."Hanya sedikit masyarakat yang merasa yakin dengan hasil pemilu September. Sedangkan kebanyakan orang masih mengira-ngira atau beradu argumen satu sama lain tentang pilihan mereka," katanya.Akibatnya, mereka menunda keputusan penting sampai ketidakpastian politik tersebut sirna sehingga proporsi konsumen yang berencana membeli barang tahan lama dalam enam bulan mendatang pun turun dari 24,7 persen menjadi 23,3 persen.Dibandingkan kekhawatiran akan melambatnya ekonomi, tercurahnya perhatian pada berita pemilu tampaknya merupakan faktor utama yang menyebabkan sentimen konsumen melemah. Sementara fundamental ekonomi tidak menunjukkan tanda-tanda pemburukan di bulan Agustus.
(mi/)











































