Anggota Komisi IV DPR Viva Yoga mengatakan, pemerintah harus membangun sentra-sentra produksi daging sapi di beberapa daerah di Indonesia. Karena disinyalir, harga yang melonjak dipicu oleh faktor distribusi yang mahal. Menurut Viva, sentra produksi tersebut bisa dibangun di titik regional seperti Sumatera, Jawa Barat, Sulawesi, dan lainnya.
"Dengan mendekatkan jarak yang lebih banyak kebutuhan untuk konsumennya. Nah, dari sisi itu akan bisa mempercepat proses swasembada dengan harga daging sapi yang rendah, kalau sekarang kan sangat tinggi, luar biasa," jelas Viva saat melakakan Rapat Dengar Pendapat Komisi IV bersama Dirjen Peternakan Kementerian Pertanian, Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, dan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (11/2/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian, dan Badan Pusat Statistik (BPS) didapat 14,8 juta ekor sapi potong, sedangkan sapi perah 1,3 juta ekor.
"Dengan 14,8 juta ini Pak Dirjen memasukkan kepemilikan sapi dari para kepala keluarga yang memiliki kira-kira 3-5 ekor sapi ini sebagai stok sapi nasional. Padahal mereka tidak turut apa kata pemerintah. Tapi mereka untuk stok, atau tabungan atau untuk syukuran pernikahan dan lainnya. Jadi tidak ada hubungannya dengan kepentingan pemerintah. Apakah kemudian, jumlah dari sapi sapi yang di peternak itu. Bisa dijadikan stok nasional," tegasnya.
Dia melanjutkan, pihaknya sendiri mendukung penuh rencana penurunan impor daging sapi beku dan bakalan. "Tapi saya sangat mendukung untuk penurunan kuota impor sapi beku, dan bakalan," tutupnya.
(zlf/dnl)










































