Kalla Group menegaskan belum memiliki ikatan kerjasama dengan PT Jakarta Monorail (PT JM) untuk menggarap proyek monorel Jakarta. Pihaknya baru proses tahap penjajakan sehingga belum ada keterbukaan antara kedua belah pihak.
Hal ini respons dari sikap PT JM yang lebih memilih menggandeng Ortus Holdings, perusahaan milik pengusaha Edward Suryadjaya yang berdomisili di Singapura. Padahal sebelumnya JM disebut-sebut akan menggandeng Kalla Group.
"Secara best practice, kalau ingin menikah kenalan dulu. Dari situ baru kita tentukan. Kita belum tahu seperti apa, berapa utang, berapa yang harus kita selesaikan," kata Sekretaris Perusahaan Kalla Group Andi Asmir kepada detikFinance, Kamis (14/2/2013)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harus ketahuan dulu. Tapi proses awal belum ada, mereka tidak mau terbuka," kata Andi.
Andi menuturkan sejak awal, pihaknya hanya ingin membantu permasalahan kemacetan di Jakarta. Meskipun prosesnya memang mau tidak mau harus bekerjasama dengan perusahaan yang sebelumnya mendapat izin menggarap monorel Jakarta yaitu PT JM seperti yang diinginkan oleh Gubernur DKI Jakarta Jokowi.
"Ini barang mangkrak, kita mau bantu karena kita anggap tidak ada yang mau. Kita mau lihat dulu isinya. Terus misalnya ada yang lain masuk, lebih baik. Barang sudah bisa jalan," katanya.
Andi menegaskan hingga kini pihak JM belum memberikan tanda-tanda keterbukaan soal penjajakan kerjasama. Sampai pada akhirnya ada kabar bahwa PT JM menggandeng Ortus Holding milik pengusaha Edward Suryadjaya.
"Kita minta dia keterbukaan. Itu yang belum ada. Kita mau transparan," katanya.
Ia menegaskan hingga detik ini posisi Kalla Group tidak mundur ataupun tidak maju terkait kerjasama dengan PT JM. Hal ini sangat tergantung dengan pihak JM.
"Kalla tidak mundur, karena belum ada komitmen sama sekali. Kita tidak mundur, tapi kita tidak maju," katanya. (hen/dnl)











































