"Harga daging sapi di Indonesia termahal di dunia. Itu tidak benar. Kita masih di bawah Singapura dan Prancis. Daging kan ini ada klasifikasinya, misal untuk steak dia butuh daging masuk katagori prime class (kelas satu)," tutur Suswono di Kantor Kementerian Pertanian, Ragunan Jakarta, Jumat (1/3/2013).
Suswono menjelaskan, lonjakan harga daging sapi tertinggi, hanya terjadi di wilayah DKI Jakarta saja. Ini terjadi, karena DKI bukan sebagai sentra penghasil daging.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sudah undang 2 hari lalu pelaku feed loader (importir penggemukan sapi) mereka menjelaskan karena harga di Australia tinggi. Sehingga jatuhnya bobot hidup Rp 32.000 per kg. Itu alasan yang dikemukakan," tambahnya.
Untuk mengerem laju harga daging, Kementan akan memfasilitasi penjualan daging sapi lokal hasil binaan Sarjana Membangun Desa (SMD) yang dihasilkan dari sentra penghasil daging di seluruh Indonesia.
Dengan harga Rp 81.000 per kg, harapannya daging sapi dengan merek Esemde ini, bisa mengerem tingginya harga daging sapi di DKI. Selain itu, Suswono mengklaim, hari ini kerjasama dengan KAI untuk pengakutan daging beku mulai berlaku sehingga bisa ikut berperan menekan harga.
"Ditambah jaringan SMD, para pelaku usaha (peternak dan rumah ptong hewan) di Jatim dan Jateng diangkut kereta. KAI komitmen angkut pakai kereta dalam bentuk frozen (beku), ini bisa turunkan harga," cetusnya.
Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan menyebut harga daging di Indonesia khususnya DKI dua kali lipat lebih mahal dibandingkan negara tetangga seperti Singapura. Harga daging di Singapura hanya dijual Rp 45.000 per Kg. Untuk mengerem laju tersebut, maka BUMN meminta diberi jatah kuota impor sapi bakalan dan daging beku.
"Singapura harga daging cuma Rp 45.000 per kg," tutur Dahlan.
(hen/dru)











































