"Mencari bibit sapi itu susahnya minta ampun. Fakta selama 6 bulan ini kami kesulitan mendapatkan anakan sapi atau pedet, dan sapi betina produktif. Kami sejujurnya masih masuk ke penggemukan, tetapi ingin mengembangkan sapi," ujar Direktur Utama RNI Ismed Hasan Putro di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (6/3/2013).
Ismed mengakui bisnis sapi bukan menjadi prioritas bisnis yang RNI lakukan. RNI masih menjadikan bisnis gula sebagai bisnis utama. Tetapi bisnis sapi dilakukan karena mandat yang disampaikan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan bulan Mei 2012 agar RNI dan PTPN I-XII bisa mengembangkan sapi di tanah air.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, BUMN perkebunan ini juga sudah mempunyai konsep sendiri untuk mengembangkan peternakan sapi, yaitu melalui mekanisme plasma sapi dan sarjana masuk desa. Ia bahkan siap untuk mengerahkan setidaknya 2.500 sarjana masuk desa kembangkan sapi.
"Konteks peran kami tidak hanya melalui mekanisme bisnis tetapi plasma. Jadi melalui petani yang dikelompokan juga akan dibina oleh sarjana masuk desa dengan alokasi 8 ekor sapi/kelompoknya. Kita kembangkan ini di Jatitujuh dan Subang. Dari pola plasma itu, mereka dapatkan bagi hasilnya sekitar Rp1,3 juta/kelompok atau Rp 500 juta di satu desa. Ini adalah uang yang kita kembangkan di satu desa itu. Kemudian kami juga akan menghimpun 2500 sarjana masuk desa," tandas Ismed.
(wij/dnl)











































