Deptan Pastikan Belum Ada Mutasi Virus Flu Burung ke Manusia

Deptan Pastikan Belum Ada Mutasi Virus Flu Burung ke Manusia

- detikFinance
Selasa, 05 Okt 2004 15:03 WIB
Jakarta - Departemen Pertanian (Deptan) memastikan hingga saat ini di Indonesia belum ditemukan adanya mutasi virus flu burung (Avian Influenza/AI) dari unggas ke manusia seperti yang terjadi di Vietnam dan Thailand yang telah menelan 30 jiwa.Dari hasil penelitian analisa genetika, virus AI yang mewabah di Vietnam dan Thailand berbeda dengan jenis virus AI di Indonesia. Hasil penelitian sementara di laboratorium Universitas Hongkong, isolat virus AI di Indonesia termasuk jenis virus H5N1 dengan genotipe Z yang tidak menular langsung dari unggas ke manusia.Hal ini disampaikan Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Bina Produksi Peternakan Deptan Tri Satya P Naipospos dalam jumpa pers di Gedung Deptan, Jl Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (5/10/2004).Dijelaskan Tri Satya meski berbeda dnegan virus yang ditemukan di Vietnam dan Thailand virus yang ditemukan di Indonesia berhubungan dekat dengan virus H5N1 yang berasal dari Yunan di daratan Cina. Sedangkan H5N1 yang berasal dari Vietnam dan Thailand berhubungan dekat dengan virus H5N1 dari Hongkong."Sejak awal adanya virus AI, WHO memang sudah memperingatkan ada kecenderungan terjadinya mutasi bisa dari unggas ke manusia atau manusia ke manusia. Sampai hari ini sudah 30 orang meninggal di Vietnam dan Thailand. Meski belum ditemukan di Indonesia, kita terus melakukan pemantauan dan pengamatan terutama dengan cara mengumpulkan sampel darah dari orang-orang yang berisiko tinggi tertular virus AI," katanya.Selain itu, Deptan juga mengantisipasi dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terutama industri peternakan bahwa penting untuk mencegah penyebaran virus ini ditengah iklim Indonesia yang sangat tropis dan kelembaban yang tinggi.Sementara itu, dari hasil monitorimg dan evaluasi yang dilakuan Tim Monitoring Ditjen Bina Produksi Peternakan Deptan kasus AI yang terjadi di Indonesia dari Januari hingga akhir September 2004 secara umum cenderung menurun dan dapat terkendali. Kasus kematian yang masih dilaporkan pada Juli-akhir September 2004 menurutnya terjadi secara sporadis dan terbatas pada daerah tertular."Kejadian AI hanya terjadi di satu atau dua lokasi peternakan yang sangat mungkin disebabkan oleh belum diterapkan biosecurity secara baik maupun program vaksinasi secara teratur. Karenanya kewaspadaan tetap perlu mendapatkan perhatian yang tinggi dari semua pihak terutama masyarakat perunggasan dan Pemda untuk mencegah kemungkinan wabah AI berikutnya," terang Tri Satya.Dari hasil monitoring dan evaluasi secara kronologis pada Juni-Juli 2004, terjadi kasus kematian 700 ekor dari 2.200 ekor pada satu peternakan di desa Tenggur, Tulungagung, Jawa Timur. Selain itu pada Juli-Agutus 2004, terjadi kasus kematian 460 ekor dari 2,2 juta ekor pada satu peternakan di desa Langenharjo, Kediri, Jawa Timur. Sementara pada Agustus 2004 terjadi kasus penurunan produksi telur namun tidak terjadi kematian dalam satu peternakan di Kendal, Jawa Tengah. Setelah dilakukan pengecekan dan penelitian oleh Balai Besar Veteriner Wates, Yogyakarta penyebab kasus ini adalah AI dengan tingkat kegasan rendah. Sedangkan pada September 2004 jumlah kematian mencapai 350 ekor dari 1.500 ekor pada satu peternakan di kabupaten Purwadadi, Grobogan.Mengenai masih adanya kasus AI, Tri Satya membantah bahwa Deptan gagal meredam kasus AI. Menurutnya pada dasarnya virus AI ini sangat sulit dihilangkan dari satu peternakan yang terkontaminasi virus itu tanpa tindakan biosecurity."Tapi dari seluruh populasi yang rentan kita optimis bisa dikurangi. Jadi terlalu pagi jika dikatakan gagal," katanya. (san/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads