Ini Jawaban Mengapa Harga Bawang Merah Meroket

- detikFinance
Rabu, 13 Mar 2013 10:27 WIB
Cirebon - Para produsen bawang merah yang tergabung dalam Dewan Bawang Merah Nasional menilai melejitnya harga bawang merah dalam dua minggu terakhir, disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya adalah, buruknya penanganan pascapanen.

"Kita sangat melimpah saat musim panen bawang. Namun saat musim hujan, kita mulai kekurangan bawang merah, karena musin hujan, bukan musim yang baik menanam bawang merah," kata Ketua Dewan Bawang Merah Nasional, Sunarto Atmo Taryono, di Desa Ender Kecamatan Pangenan Kab Cirebon, Rabu (13/3/2013).

Seperti halnya Bulog yang mempunyai gudang penyimpanan beras, seharunya pemerintah juga mempunyai gudang pendingin untuk menyimpan bawang merah.

"Tetapi Menteri Pertanian berdalih, tidak ada anggaran dari APBN untuk itu," lanjut Sunarto.

Untuk gudang penimpanan (cold storage) berukuran kecil kapasitas 5000 ton, Sunarto mengistimasikan dana sebesar Rp 10-15 miliar untuk membuatnya.

"Kami juga tidak mau membebani kepada APBN. Yang kami butuhkan adalah regulasi, agar kami bisa merangkul perbankan, untuk mewujudkan itu. Jika cold starage itu ada, saya yakin kita tidak akan kekurangan bawang merah sepeeti saat ini, karena kita sunya stok yang bisa dikeluarkan kapan saja. Dengan begitu harga terkontrol," lanjut Sunarto.

Hal lain yang juga memicu melejitnya harga bawang merah, adalah belum dilakukan impor bawang merah, karena tidak jelasnya Rekomendasi Impor Produk Horrtikultura atau RIPH. Menurut Sunarto, saat ini siapa saja yang bermain dalam produk hortiluktura, bisa mengimpor bawang merah.

"Itu yang seharusnya tidak terjadi. RIPH harusnya diberikan kepada eksportir bawang merah. Dia yang berkompeten, meskipun saat ini RIPH belum keluar. Menteri Pertanian terlalu berhati-hati mengeluarkan RIPH, karena berkaca pada kasus impor daging sapi," lanjut Sunarto.

Untuk urusan impor, Sunarto meminta kepada Mentan, agar profesional. "Berikan saja kepada yang profesional, jangan disangkutpautkan dengan kolega politik," ujar Sunarto.

Impor, tambah Sunarto, bisa dilakukan jika melihat kondisi yang memungkinkan, dengan waktu yang sudah bisa diprediksi.

"Harusnya kran impor sudah dibuka sejak bulan Januari lalu, hingga bulan Juni. Karena dalam jangka itu, sedang musim hujan, muson yang kurang menguntungkan menanam bawang merah," tambah Sunarto.

Konsumsi bawang merah Indonesia, berkisar antara 1.200 hingga 1.500 juta ton pertahun. "Kita bisa swasembada bawang merah. Lahan kita sudah cukup. Dengan asumsi panen 10 ton/ha, kita hanya memerlukan maksimal 150.000 ha lahan, kita tidak usah impor," tambah Sunarto.

Namun, saat musim hujan, petani hanya bisa bisa berkontribusi terhadap kebutuhan dalam negeri sebesar 30 persen saja. "Nah saat itulah kran impor dibuka, dan hingga bulan Juni nanti, kita hanya memerlukan 3o hingga 60 juta ton saja," ujar Sunarto.

Dalam dua minggu terakhir, harga bawang merah mengkak naik, dari Rp 15 ribu mencapai Rp 41 ribu di tingkat pedagang. "Ini sejarah harga bawang merah termahal," kata Sunarto.

(dru/dru)