Gebrakan Dahlan Iskan Setelah Jadi Menteri BUMN (1)

Gebrakan Dahlan Iskan Setelah Jadi Menteri BUMN (1)

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Rabu, 20 Mar 2013 08:30 WIB
Gebrakan Dahlan Iskan Setelah Jadi Menteri BUMN (1)
Jakarta - Sejak dilantik menjadi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada 17 Oktober 2011, Dahlan Iskan langsung melakukan berbagai macam gebrakan atau manuver di Kementerian BUMN dan lingkungan perusahaan pelat merah.

Menteri yang kontroversial dan pernah terlibat perselisihan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ini ternyata memiliki beberapa pencapaian sejak dilantik hingga saat ini. Mulai dari pencetakan sawah baru berkonsep moderen pertama di Indonesia, revitalisasi pabrik gula hingga pembenahan di internal BUMN.

Setidaknya ada 14 gebrakan Dahlan selama memimpin 142 perusahaan pelat merah yang terangkum oleh detikFinance. Mau tahu, gebrakan-gebrakan Dahlan selama memimpin BUMN? Berikut ini hasil penelusuran bagian pertama, Selasa (19/3/2013).

14. Cetak Sawah Moderen Baru

Dahlan Iskan berhasil mendorong perusahaan pelat merah dalam mencetak lahan sawah moderen pertama di Indonesia. Tahap awal, sudah tercetak 3.000 hektar persawahan di Ketapang Kalimantan Timur.

Dahlan menugaskan PT Sang Hyang Seri (SHS), PT Pertani, PT Pupuk Indonesia Holding Company serta BUMN karya untuk secara sinergi dan keroyokan mencetak sawah baru hingga 100.000 hektar di Kalimantan. Hal ini dilakukan untuk menciptakan ketahanan pangan Indonesia.

13. Revitalisasi Pabrik gula

Dahlan sukses mendorong produktivitas pabrik gula BUMN yang jumlahnya mencapai puluhan. Tanpa memerintahkan membuat pabrik gula baru, Dahlan telah berhasil meningkatkan kualitas dan kuantitas rendemen tebu.

Meskipun pabrik gula milik BUMN sebagian besar telah berusia lanjut bahkan merupakan peninggalan zaman kolonial, mantan bos PLN ini hanya mengintruksikan melakukan revitalisasi atau perbaikan pabrik dan perbaikan kualitas tebu yang masuk ke pabrik. Terbukti produktivitas gula yang dihasilkan meningkat tanpa perlu membangun pabrik gula baru.

12. Pengembangan Sapi

PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan PT Berdikari menerima penugasan Dahlan untuk mengembangkan peternakan sapi moderen, pembangunan rumah potong hewan hingga membuat pabrik pengolahan daging.

Namun, apa yang telah dirintis RNI di Lombok dan Majalengka Jawa Barat atau Berdikari di Sidrap Sulawesi Selatan, ternyata mengalami kendala dalam memperoleh bibit sapi. Akhirnya, Dahlan meminta kuota impor sapi bakalan dan daging beku sebagai subsidi pengembangan bibit sapi milik BUMN kepada pemerintah.

11. Pengembangan Perkebunan Buah Moderen

Dahlan Memfasilitasi Institut Pertanian Bogor (IPB) dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII dalam pencetakan perkebunan buah tropis tujuan ekspor. Perkebunan buah tropis dengan konsep revolusi oranye ini, nantinya akan menjadi yang pertama, terluas dan termoderen di Indonesia.

Memanfaatkan lahan milik PTPN VIII, yang sudah kurang cocok untuk tanaman teh di Jawa Barat, Dahlan meminta PTPN VIII menangkap peluang buah tropis seperti mangga, durian, manggis, pepaya, dan pisang untuk di ekspor ke China dan memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sementara itu,

Direktur Utama PTPN VIII Dadi Sunardi, menjelaskan, tahap awal pihaknya akan mengembangkan tanaman buah musiman yakni pepaya dan pisang di lahan seluas 1.200 hektar di Jawa Barat mulai semester II-2013.

10. Sehatkan BUMN Dhuafa

Dahlan memiliki perhatian khusus terhadap perusahaan pelat merah dengan neraca keuangan negatif dalam kurun waktu lama atau sering disebut BUMN Dhuafa. Perombakan manajemen ternyata cukup terbukti mampu memperbaiki kinerja perseroan.

Seperti PT Industri Kapal Indonesia (IKI) di Makassar yang kembali hidup dan bisa mengerjakan order perawatan kapal. Ada juga PT Kertas Leces yang mulai menerima order pasca tidur panjang setelah pergantian direksi.

9. Percepat Merger BUMN

Gebrakan Dahlan yang satu membuat direksi perusahaan pelat merah tampak kaget. Kok bisa? Dalam hitungan kurang dari 2 bulan yakni tepat bulan Maret 2013, Dahlan sukses mendorong proses merger dua perusahaan jasa surveyor yakni PT Surveyor Indonesia dan PT Sucofindo dengan nama baru PT Surveyor Indonesia Sucofindo (Surfindo).

Setelah BUMN Surveyor, Dahlan membuka opsi merger BUMN teknologi yakni PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) dan PT Len Industri (LEN).

"Inti dan LEN akan dikonsilidasi (merger), kayak Sucofindo dan Surveyor Indonesia. Polanya seperti itu," kata Dahlan.

Selain itu, mantan bos PT PLN ini berencana membuat holding Rumah Sakit milik BUMN dengan jalan melakukan merger.

8. Bentuk Bank Pos

Sinergi antar BUMN yang satu ini terbilang sangat cepat. Meskipun rencana lama, Dahlan berhasil mempercepat terbentuknya Bank Pos atau Bank Sinar yang merupakan bank hasil joint venture dari tiga BUMN yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Pos Indonesia (Persero) dan PT Taspen (Persero).

Direktur Utama Pos Indonesia, I Ketut Mardjana menjelaskan, dengan memanfaatkan jaringan Pos Indonesia yang tersebar di pelosok negeri, diharapkan penyaluran pembiayaan dan pelayanan jasa perbankan yang masih belum tergarap bisa dimaksimalkan.

Selain itu, dengan kerjasama ini, bisa memanfaatkan jumlah nasabah Taspen yang sangat besar dan dibantu oleh Bank Mandiri yang memiliki kemampuan mengelola perbankan secara profesional.

"Ini akan memberikan kredit pensiun dan UMKM," tutur Ketut.

Sementara itu, Dahlan menjelaskan, bank baru ini merupakan bentuk aliansi yang murni lahir dari inisiatif, kerja keras dan ide dari tiga BUMN.

"Ini tidak sekedar sinergi tapi aliansi, terikat di Bank Sinar," tutur Dahlan saat menyaksikan peresmian Bank Sinar di Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (31/1/2013).
Halaman 2 dari 8
(hen/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads