Meski Karyawan Paiton Mogok, Listrik Jawa-Bali Tetap Aman
Kamis, 07 Okt 2004 13:46 WIB
Jakarta -
Listrik Jawa-Bali dipastikan aman meskipun mulai pukul 07.00 WIB Kamis (7/10/2004) pagi ini telah terjadi mogok kerja karyawan PT Paiton Energy Company (PEC) yang mengoperasikan PLTU Paiton unit 7 dan 8 dengan kekuatan 1.200 Megawatt. Karyawan melakukan mogok kerja karena menuntut adanya pembagian hasil setelah terjadinya perubahan kepemilikan di PEC."Sejak pukul 07.00 WIB telah terjadi mogok kerja karyawan PEC untuk operasi PLTU Paiton unit 7 dan 8. Namun kegiatan itu tidak mempengaruhi pengoperasian unit pembangkitnya karena operator unit-unit pembangkit masih tetap menjalankan tugasnya," kata Dirut PLN Eddie Widono di Gedung PLN, Jl Trunojoyo, Jakarta, Kamis (7/10/2004).Saat ini, lanjutnya, PLN terus melakukan pemantauan untuk memastikan kondisi sistem litrik Jawa-Bali tetap aman. "Kita juga menghimbau pelanggan-pelanggan besar untuk tidak panik karena PLN memiliki cadangan jika ada sesuatu yang tidak diinginkan," katanya.PLN selaku unit penyaluran dan pusat pengatur beban di Jawa-Bali menurut Eddie Widiono telah mengadakan pertemuan tadi pagi dengan PT PEC dimana PEC berjanji akan menyelesaikan secepatnya masalah serikat pekerja tersebut yang akan difasilitasi oleh Depnaker.PEC juga telah menjamin PLTU Paiton unit 7 dan 8 tetap akan beroperasi normal walaupun ada staf yang tidak masuk kerja, namun operator tetap bertugas. Kondisi listrik Jawa-Bali hari ini memiliki daya beban sebesar 14.913 Megawatt dengan beban puncak yang biasanya terjadi pada Kamis sebesar 14.235 Megawatt. Sedangkan cadangan listrik Jawa-Bali mencapai 678 Megawatt."Jadi listrik Jawa-Bali relatif aman. Makanya kita meminta kepada PEC agar mogok kerja itu tidak berlanjut karena hal itu bisa membahayakan," katanya.Temuan BPKMengenai dugaan potential loss di Tanjung Jati B sebesar Rp 4,4 triliun yang dikemukakan oleh BPK menurut Dirut PLN Eddie Widiono hal itu baru sebatas potensi dan BPK belum mengetahui bahwa renegosiasi yang telah dilakukan untuk PLTU Tanjung Jati B justru memiliki potensi profit yang cukup besar."Kita sudah ketemu BPK tadi pagi dan mereka mengerti bahwa memang ada potensi profit dari hasil renegosiasi proyek Tanjung Jati B yang belum dilaporkan sehingga untuk tahun 2005 masalah ini akan disampaikan ke BPK," katanya.Dalam renegosiasi PLTU Tanjung Jati B yang kontraknya semula selama 30 tahun telah diubah menjadi 20 tahun dimana hasil renegosiasi tersebut untuk 12 tahun pertama komponen listrik A yang semula dibeli seharga 3,45 sen dolar per Kwh menjadi 3,20 sampai 3,30 sen dolar per KWh. Untuk komponen B, C dan D tidak ada perubahan masing-masing dengan harga 0,48 sen dolar per Kwh, 1,56 sen per Kwh dan 0,24 sen dolar per Kwh.Hasil renegosiasi yang semula total biaya mencapai US$ 3,014 miliar menjadi US$ 2,476 miliar sehingga terjadi penghematan sebesar US$ 537,71 juta (17,84 persen) dimana setelah pembayaran PPN impor sebesar 10 persen total keuntungan yang didapat US$ 455,9 juta (15,12 persen).
(san/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































