Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menuturkan, penyebab defisit neraca perdagangan adalah karena impor BBM bersubsidi jenis premium.
"(Impor) minyak mentah US$ 12,28 juta dan hasil minyak US$ 2,22 miliar, dan itu hasil minyak premium yang paling besar andilnya," ungkap Suryamin di Gedung BPS Pusat, Pasar Baru, Jakarta, Senin (1/4/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ekspor non migas ada perkembangan yang bagus, secara total kan US$ 25,17 miliar atau naik 1,83%. Share terbesar bahan bakar mineral US$ 4,19 miliar, lalu lemak dan minyak hewan US$ 3,80 miliar," sambungnya.
Negara tujuan ekspor terbesar Indonesia adalah China senilai US$3,29 miliar, Jepang US$ 2,77 miliar, USA US$ 2,43 miliar dengan total pangsa pasar ketiganya 33,77%.
Sementara nilai impor Indonesia pada Februari 2013 tercatat US$ 15,32 miliar atau naik 3,03% dibanding Februari 2012. Impor migas tercatat US$ 3,65 miliar dan non migas tercatat US$ 11,67 miliar.
"Secara year on year nilai impor itu naik 4,57% menjadi US$ 30,77 miliar dan non migas juga naik 1,07%," ungkapnya.
Negara asal barang impor terbesar ke Indonesia adalah China US$ 4,53 miliar, Jepang US$ 3,09 miliar, dan Thailand US$ 1,80 miliar dengan total pangsa pasar ketiganya 40,7%.
"Thailand ini banyak juga yang diimpor ke Indonesia seperti kendaraan bermotor dan barang hortikultura," terang Suryamin.
(dnl/dnl)











































