Para Pengusaha Kaya Indonesia Ramai-ramai Ekspansi ke Myanmar

Laporan dari Myanmar

Para Pengusaha Kaya Indonesia Ramai-ramai Ekspansi ke Myanmar

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Selasa, 02 Apr 2013 07:27 WIB
Para Pengusaha Kaya Indonesia Ramai-ramai Ekspansi ke Myanmar
Dubes RI untuk Myanmar Sebastianus Sumarsono & Menko Perekonomian Hatta Rajasa (Foto: Feby/detikFinance)
Yangon - Myanmar tengah membuka investasi pasca terpilihnya Thein Sein menjadi presiden pada 2011 silam. Setelah ekonomi mulai terbuka, dengan potensi sumber daya alam, kelautan, dan pertanian yang banyak, Myanmar mulai dilirik investor dari berbagai negara termasuk Indonesia.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Myanmar Sebastianus Sumarsono menuturkan, hingga saat ini, setidaknya ada sekitar 12 investor asal Indonesia yang telah dan memulai ekspansi ke Myanmar.

"Dua belas perusahaan dan usahawan. mereka ada Japfa di pakan ternak dan produk olahan, Gold Petrol di minyak, di samping itu farmasi ada Kalbe Farma, Dexca Medica, garmen sudah masuk terus Indofood melakukan penjajakan membuka pabrik," tutur Sumarsono saat acara jamuan makam malam di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yangon, Myanmar, Senin Malam (1/4/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan taipan dan pemilik grup Lippo, James Riyadi, berminat masuk ke Myanmar. "Pak James Riyadi sudah mau datang ke sini untuk buka sekolah Internasional atau hospital," tambahnya.

Sementara seorang diplomat RI untuk Myanmar, Djumara Supriyadi menuturkan pemilik usaha Recapital, Sandiaga Uno juga telah menancapkan usahanya di Myanmar. Sadiaga masuk pada industri oil and gas.

"Sandiaga Uno masuk ke bisnis minyak dan Ram Punjabi mau bikin bioskop," paparnya.

Seperti diketahui, Menteri Perekonomian Hatta Rajasa, melakukan kujungan kerja dan membuka hubungan bisnis dengan Myanmar. Pertemuan dilakukan dari hari Selasa ke Rabu 2-3 Maret. Dalam kunjungannya, Hatta memboyong 15 BUMN untuk ekspansi ke Myanmar.

BUMN tersebut antara lain: PT Timah Tbk (TINS), PT Pertamina, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Antam Tbk (ANTM), PT Pupuk Indonesia, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia, PT PLN, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Telkom Tbk (TLKM), Perum Bulog, PT Dirgantara Indonesia, PT INTI, PT Indofarma Tbk (INAF), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

(hen/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads