Negara tersebut memiliki pasar dan peluang bisnis begitu terbuka luas pasca beralihnya sistem pemerintah ke demokrasi. Hatta tak ingin, pengusaha dan BUMN Indonesia terlambat menangkap peluang tersebut. Meskipun telah memulai investasi, ternyata Indonesia masih tertinggal dari Vietnam untuk soal perdagangan dan investasi di Myanmar.
"Jangan menunggu bulan purnama untuk masuk ke Myanmar. Tiket nanti sudah sold out, baru kita masuk. Myanmar potensinya itu besar, rakyatnya ada 60 juta," tutur Hatta saat acara jamuan makam malam di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yangon, Myanmar, Senin Malam (1/4/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bikin kantor bersama. Itu dijadikan pos bergerak supaya kita bisa mengawal PT Timah, Antam, Pupuk Indonesia, Bulog, PLN, GMF, banyak lagi yang lain. Kita harus agresif untuk bergerak," tambahnya.
Dengan ekspansi ini, disamping bisa menggarap pasar di luar negeri. BUMN Indonesia, bisa semakin tangguh di kancah internasional. "Sudah saatnya kita ekspansi ke luar. BUMN go international. Bikin BUMN incorporated," cetusnya.
(hen/hen)










































