Hal tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (APPSI) Ngadiran kepada detikFinance, Rabu (3/4/2013).
"Sebenarnya upaya upaya bagaimana mematikan pasar tradisional. Ini upaya bagaimana mematikan secara halus pedagang pasar tradisional," kata Ngadiran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mana ada pedagang sayur minjem uang ke bank, ada sih itu buat contoh di TV dan di koran. Iya memang kalau Menteri ngomong UKM dapat kredit sekian, ya UKM yang mana, bukan tukang sayur. Kalau rentenir sebulan bunganya bisa 15-20%. Mana pula untungnya dia gitu," tegas Ngadiran.
Selain itu, dikatakan dia, persaingan yang dilakukan oleh para pelaku pasar modern seolah mematikan adanya pasar tradisional, bahkan warung-warung yang ada di pemukiman masyarakat.
"Sekarang Alfa (Alafmart) sudah pakai motor Viar, Jialing, motor roda tiga itu keliling ke pelosok kampung memasarkan barangnya. Apapun yang dibutuhkan orang itu ada semua. Mati lah itu warung. Itu banyak di Jawa Barat, Jakarta belum banyak. Itu memang miliknya Alfa, mereknya Alfa," papar dia.
"Kita nggak nuduh tapi boleh jadi apakah ini cara-cara halus untuk mematikan pelan-pelan biar mati pelan-pelan atau MPP," tutupnya.
(zlf/hen)










































