Pedagang Tuding Ada Upaya Mematikan Pasar Tradisional

Pedagang Tuding Ada Upaya Mematikan Pasar Tradisional

Zulfi Suhendra - detikFinance
Rabu, 03 Apr 2013 12:41 WIB
Pedagang Tuding Ada Upaya Mematikan Pasar Tradisional
Jakarta - Harga sayur di pasar tradisional lebih mahal dibanding harga pasar moderen atau swalayan karena masalah distribusi, akses modal dan lain-lain. Pedagang pasar menuding kenyataan ini salah satu cara halus untuk mematikan keberadaan pasar tradisional.

Hal tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (APPSI) Ngadiran kepada detikFinance, Rabu (3/4/2013).

"Sebenarnya upaya upaya bagaimana mematikan pasar tradisional. Ini upaya bagaimana mematikan secara halus pedagang pasar tradisional," kata Ngadiran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ngadiran mengatakan, pedagang pasar memiliki akses terbatas soal urusan modal termasuk dari lembaga keuangan seperti bank. Hal yang berbeda sebaliknya dibandingkan pengusaha swalayan atau toko moderen. Saat ini, para pedagang pasar masih banyak mendapatkan pinjaman dari para rentenir.

"Mana ada pedagang sayur minjem uang ke bank, ada sih itu buat contoh di TV dan di koran. Iya memang kalau Menteri ngomong UKM dapat kredit sekian, ya UKM yang mana, bukan tukang sayur. Kalau rentenir sebulan bunganya bisa 15-20%. Mana pula untungnya dia gitu," tegas Ngadiran.

Selain itu, dikatakan dia, persaingan yang dilakukan oleh para pelaku pasar modern seolah mematikan adanya pasar tradisional, bahkan warung-warung yang ada di pemukiman masyarakat.

"Sekarang Alfa (Alafmart) sudah pakai motor Viar, Jialing, motor roda tiga itu keliling ke pelosok kampung memasarkan barangnya. Apapun yang dibutuhkan orang itu ada semua. Mati lah itu warung. Itu banyak di Jawa Barat, Jakarta belum banyak. Itu memang miliknya Alfa, mereknya Alfa," papar dia.

"Kita nggak nuduh tapi boleh jadi apakah ini cara-cara halus untuk mematikan pelan-pelan biar mati pelan-pelan atau MPP," tutupnya.

(zlf/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads