Megawati: Waspadai dan Pahami Hukum Ekonomi Internasional

Megawati: Waspadai dan Pahami Hukum Ekonomi Internasional

- detikFinance
Rabu, 13 Okt 2004 11:31 WIB
Jakarta - Presiden Megawati mengingatkan masyarakat ekonomi untuk selalu waspada terhadap perkembangan hukum ekonomi. Khususnya, terkait masalah perdagangan internasional.Pesan Megawati yang sebentar lagi akan mengakhiri masa jabatannya ini disampaikan saat membuka Pameran Produk Ekspor ke 19 Tahun 2004, di arena PRJ, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (13/10/2004)."Kita semua tidak jemu-jemu dan terus meningkatkan pemahaman terhadap hukum ekonomi yang terus berkembang, terutama dalam masalah perdagangan internasional. Kita harus berani menatapnya dan mampu mengusainya," kata Megawati.Menurut Megawati, dunia akan terus tumbuh menjadi pasar yang ramai dengan persaingan. Indonesia, sambung Megawati, akan menjadi bagian di dalamnya. "Apa pun dasar strategi bagi pembangunan ekonomi kita, pasar yang terbentuk akan semakin tidak mengenal batas yang jelas," ujar Megawati.Megawati menegaskan, masyarakat ekonomi Indonesia harus terus berupaya menciptakan peluang dan membuka pasar di negara lain. Karena itu, sambung Megawati, berbagai upaya seperti pameran saat ini, tidak boleh berhenti begitu saja."Penyelenggaraan pameran seperti sekarang ini jangan berhenti pada penyediaan sarana dan prasarana saja. Tetapi lebih penting pada mobilsasi dan pengorganisasian. Pada waktunya nanti upaya seperti ini harus kita lakukan untuk menciptakan peluang dan membuka pasar di negara-negara yang lain," ungkap Megawati.Menteri Perdagangan dan Perindustrian, Rini Suwandi yang ikut mendamping Megawati menjelaskan, pameran ini sebagai media untuk mengenalkan produk ekspor berkualitas. Pameran ini juga penting untuk membangun citra bahwa Indonesia mampu membuat barang-barang berkualitas.Pameran diikuti oleh 1.250 perusahaan dengan 1.500 stand pameran, baik dari indutri kecil, menengah, besar atau BUMN dari berbagai daerah. Produk yang dipamerkan antara lain, sepatu, furniture, hasil pertanian, hasil pertambangan, kerajinan tangan, makanan dan lain lain. Saat ini tercatat ada 3000 buyer asing yang berasal dari 65 negara. (djo/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads