Tidak hanya itu. Business Forum yang juga diikuti dengan pameran produk-produk Indonesia ini mendapat liputan dari media cetak dan elektronik negeri dengan pendudukan mayoritas beragama Islam ini.
"Hubungan bisnis antara Indonesia dan Maroko belum sebaik hubugan historis antar kedua negara," kata Wakil Presiden Kamar Dagang Cassablanca M Samir Lahmadi. "Perlu nuansa baru kerjasama di bidang ekonomi seperti pariwisata, kimia dan obat-obatan," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hampir semua pembicara sepakat untuk terus meningkatkan hubungan ekonomi antar kedua negara. Namun, mereka menyadari banyak tantangan yang harus dihadapi. Misalnya soal pengiriman logistik yang sangat jauh. Volume perdagangan anta kedua negara yang masih kecil dengan jarak tempuh yang jauh membuat komoditas dari masing-masing negara kurang kompetitif.
Menurut Jamal Ghozy, total nilai perdagangan kedua negara hanya US$ 277 juta. Ekspor Indonesia ke Maroko hanya US$ 90 juta, sedangkan ekspor Maroko ke Indonesia mencapai US$ 188 juta. "Jadi perdagangan kita masih defisit," kata bos sarung Gadjah Duduk ini.
Sejumlah pengusaha Maroko memang punya harapan besar dengan Indonesia yang sekarang menjadi negara strategis di kawasan Asia-Pasific. Dengan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen menjadikan negeri ini sebagai salah satu dari sedikit negara di dunia yang sangat dinamik. Kelas menengah dengan pendapatan US$ 10 ribu per tahun mencapai 50 juta orang.
"Semua itu merupakan potensi bagi peningkatan hubungan ekonomi kedua negara. Pengusaha dari Indonesia maupun Maroko bisa mempelajari sekuat apa potensi itu untuk bersama-sama ditumbuhkembangkan," tambah Jamal Ghozy.
(dnl/dnl)










































