Pebisnis Maroko Antusias dengan Indonesia

Laporan dari Rabat

Pebisnis Maroko Antusias dengan Indonesia

Arif Afandi - detikFinance
Kamis, 02 Mei 2013 09:47 WIB
Pebisnis Maroko Antusias dengan Indonesia
Rabat - Indonesian-Moroccan Business Forum yang digelar di Rabat mendapat tanggapan antusias dari pebisnis Maroko. Sekitar 50 pengusaha hadir dalam acara yang digelar Kedubes RI di Maroko bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri dan Kerjasama Maroko di Hotel La Tour Hasan, Rabat, Selasa waktu setempat.

Tidak hanya itu. Business Forum yang juga diikuti dengan pameran produk-produk Indonesia ini mendapat liputan dari media cetak dan elektronik negeri dengan pendudukan mayoritas beragama Islam ini.

"Hubungan bisnis antara Indonesia dan Maroko belum sebaik hubugan historis antar kedua negara," kata Wakil Presiden Kamar Dagang Cassablanca M Samir Lahmadi. "Perlu nuansa baru kerjasama di bidang ekonomi seperti pariwisata, kimia dan obat-obatan," tambahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menjadi pembicara dalam forum bisnis di ibukota Maroko ini Wagub Jatim Saifullah Yusuf, Dubes RI Tosari Wijaya, Konsul Kehormatan Maroko di Surabaya M Jamal Ghozy, Sekjen Kementrian Industri dan Teknologi Maroko El Aid Mahsoussi, Vice President CGEM Abdelkader Benbenkhaled, Sekjen Penguatan Ekspor Maroko ke Indonesia M Larbo Bourobo.

Hampir semua pembicara sepakat untuk terus meningkatkan hubungan ekonomi antar kedua negara. Namun, mereka menyadari banyak tantangan yang harus dihadapi. Misalnya soal pengiriman logistik yang sangat jauh. Volume perdagangan anta kedua negara yang masih kecil dengan jarak tempuh yang jauh membuat komoditas dari masing-masing negara kurang kompetitif.

Menurut Jamal Ghozy, total nilai perdagangan kedua negara hanya US$ 277 juta. Ekspor Indonesia ke Maroko hanya US$ 90 juta, sedangkan ekspor Maroko ke Indonesia mencapai US$ 188 juta. "Jadi perdagangan kita masih defisit," kata bos sarung Gadjah Duduk ini.

Sejumlah pengusaha Maroko memang punya harapan besar dengan Indonesia yang sekarang menjadi negara strategis di kawasan Asia-Pasific. Dengan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen menjadikan negeri ini sebagai salah satu dari sedikit negara di dunia yang sangat dinamik. Kelas menengah dengan pendapatan US$ 10 ribu per tahun mencapai 50 juta orang.

"Semua itu merupakan potensi bagi peningkatan hubungan ekonomi kedua negara. Pengusaha dari Indonesia maupun Maroko bisa mempelajari sekuat apa potensi itu untuk bersama-sama ditumbuhkembangkan," tambah Jamal Ghozy.

(dnl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads