Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto (Djokir) akan tetap memaksakan groundbreaking atau peletakan batu pertama proyek Kawasan Strategis Infrastruktur Selat Sunda (KSISS) pada 2014. Konstruksi yang akan dimulai tahun depan bukan pada struktur Jembatan Selat Sunda (JSS), melainkan hanya dimulainya proyek pengembangan kawasan JSS saja.
Presiden SBY sangat ingin proyek JSS/KSISS bisa dimulai konstruksi pada 2014. Namun kenyataannya studi kelayakan proyek senilai Rp 100 triliun ini belum juga dimulai karena sempat terjadi perbedaan pendapat di internal pemerintah hingga satu tahun. Padahal sudah ada Perpres No 86/2011 tentang KSISS.
"Kalau yang sedang perencanaan itu kan untuk jembatannya, nanti yang sebenarnya kita bangun itu kan kawasan strategis di sekitar Selat Sunda. Tediri dari jembatan, ada kawasan industri, ada jalan, ada segala macam. Yang lain bisa aja sebenarnya kalau dimulai," kata Djokir di sela-sela acara seminar sumber daya air di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (30/5/2013)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kalau salah satu di antaranya pasti bisa (groundbreaking)," kata Djokir beralasan.
Mengenai anggaran miliaran rupiah yang akan digelontorkan kementerian pekerjaan umum soal persiapan proyek JSS/KSISS, Djokir menegaskan bahwa hal itu bukan studi kelayakan atau feasibility study (FS). Anggaran itu untuk memastikan kesiapan proyek JSS/KSISS bisa dilakukan.
"Kalau yang dilakukan Kementerian PU bukan FS. Kita ini kan harus yakin, jadi secara teknis melalui rapat-rapat para ahli, tim luar negeri, apa bener-bener itu nanti aman. Semua kita lakukan terus," tegas Djokir.
Sebelumnya Deputi Sarana dan Prasarana Bappenas Dedi Priatna menegaskan saat ini FS proyek JSS sudah mulai dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum tanpa melibatkan pemrakarsa. Anggaran FS ini akan menelan dana hingga Rp 20 miliar.
"Anggarannya Rp 16-20 miliar, dari Kementerian PU," kata Dedi. (hen/dnl)











































