Sebuah sekolah bisnis ternama di Swiss yakni IMD membuat peringkat negara dengan daya saing tertinggi di dunia. Ada 60 negara yang disurvei oleh sekolah ini. Siapa negara dengan daya saing tertinggi?
Direktur dari IMD World Competitiveness Center Profesor Stephane Garelli mengatakan, dengan kejautan Eropa akibat krisis utang, AS kembali menjadi negara berdaya saing paling tinggi di dunia, mengalahkan Jepang yang saat ini tengah berdebat soal pengetatan anggaran.
Penilaian daya saing ini dilihat dari dinamisme ekonomi, keterampilan tenaga kerja, akses pembiayaan yang mudah, kekuatan riset dan pengembangan budaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yuk lihat 5 besar negara dengan daya saing tertinggi menurut IMD, seperti dikutip dari CNNMoney, Senin (3/5/2013):
5. Singapura
|
Foto: Reuters
|
Singapura diniliai dapat meningkatkan daya saing dengan memperkuat bantuan kepada orang-orang berpendapatan rendah dan menengah, serta membantu perusahaan untuk menjaga tekanan biaya jika berada di bawah kendali.
4. Swedia
|
Foto: Reuters
|
Dari survei IMD terhadap para pemimpin bisnis, negara ini menarik karena stabilitas politik, keterampilan tenaga kerja, kekuatan infrastruktur dan lingkungan hukum yang efektif.
Akan tetapi, Swedia jelas dianggap lemah dalam rezim pajak.
3. Hong Kong
|
Foto: Reuters
|
Hasil survei menyebutkan, pajak rendah di kota besar sangatlah menarik. Sebagai lingkungan hukum dari negara bekas jajahan Inggris. Namun, Hong Kong mendapat nilai buruk dari segi penelitian dan pengembangan, hubungan kerja dan stabilitas kebijakan.
2. Swiss
|
Foto: Reuters
|
Para eksekutif yang disurvei ternyata kurang antusias tentang harga, kualitas tata kelola perusahaan, dan kompetensi pemerintah di Swiss.
1. Amerika Serikat
|
Foto: Reuters
|
Kinerja tahun ini terkait dengan penguatan dari sektor keuangan, inovasi dan perbaikan proyeksi (outlook) perusahaan.
Dari survei IMD World Competitiveness Center, ada proposisi bisnis yang menarik di negeri Paman Sam tersebut. Di antaranya dalam dinamisme ekonomi, keterampilan tenaga kerja, akses pembiayaan yang mudah, kekuatan riset dan pengembangan budaya.
Akan tetapi, kekuatan ini tetap harus ada perbaikan untuk beberapa area. Sorotan tertuju pada pajak di Amerika. Kemudian kompetensi pemerintah yang lemah dalam menginventarisir faktor-faktor yang sangat berpengaruh bagi dunia bisnis.
Halaman 2 dari 6











































