Namun menurut Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, mahalnya harga jengkol menjadi berkah bagi para petani.
"Kalau konsumen ada yang beli Rp 100 ribu/kg, petaninya dapat rezeki. Jadi kalau menurut saya harga jengkol mahal, petani yang dapat rezeki," ujar Bayu saat berdiskusi dengan media di Kantor Kementerian Perdagangan Jakarta, Jumat (07/06/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau menurut saya jengkol itu secara agronomis itu panennya banyak di bulan Desember hingga Februari. Jadi memang ada musimnya. Biasanya 3-4 bulan musimnya di awal tahun," katanya.
Ia menambahkan, mahalnya harga jengkol ini tidak akan berdampak pada kenaikan angka inflasi.
"Jengkol itu juga eksotik food. Saya pikir komoditi ini adalah komoditi yang eksotik. Tetapi kalau menurut saya dengan harga jengkol yang mahal tidak akan berdampak ke inflasi," cetusnya.
(wij/ang)











































